LAPORAN HASIL OBSERVASI
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Disusun oleh :
Nonie
Hawai (1708061430)
Dosen Pengampu : Dwi Cahyadi Wibowo, M.Pd.
Kelas : D8
Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PERSADA KHATULISTIWA
SINTANG
2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya maka kami dapat nyelesaikan
laporan observasi dan wawancara mata kuliah “BELAJAR DAN PEMBELAJARAN “ini
dengan baik.laporan hasil observasi dan wawancara ini membahas mengenai
“”. Laporan hasil obsevasi dan wawancara ini semata-mata hanya untuk
menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas.
Adapun
tujuan kami menulis laporan ini yaitu agar kami dapat mengetahui untuk
memperdalam pengetahuan kami dalam mata kuliah BELAJAR DAN PEMBELARAN. Dalam
kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kesalahan, untuk itu kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Akhirnya penulis berharap
semoga penulisan laporan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan bagi kita semua.
Sintang, 30 mei 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1
2.1 RUMUSAN MASALAH......................................................................................... 2
3.1 TUJUAN PENULISAN........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
2.1 LANDASAN TEORI............................................................................................... 3
2.2 HASIL OBSERVASI............................................................................................... 7
2.3 LAMPIRAN.............................................................................................................. 10
BAB III PENUTUP............................................................................................................. 11
3.1 KESIMPULAN......................................................................................................... 11
3.2 SARAN..................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Belajar adalah salah satu aktivitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan
belajar. Belajar diperoleh melalui lembaga pendidikan formal dan nonformal.
Salah satu lembaga pendidikan formal yang umum di Indonesia yaitu sekolah
dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan
interaksi antara guru dan siswa. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk
mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang
optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya.
Pada dewasa ini banyak masalah yang timbul lebih cepat. Sebelum kita dapat
mengidentifikasi masalah itu, yang pasti tampak cara untuk memperoleh kejelasan
dan hal ini tidak dapat dipisahkan dengan masalah-masalah itu. Semakin lama
masalah itu menjadi sangat komplek. Juga dalam masalah-masalah itu selalu
terjadi perubahan terutama masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar
dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat,
hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap
pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus
belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman.
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar
mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam
memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Akan tetapi dalam mencapai suatu tujuan yang baik pasti ada kendala
suatu masalah yang menghalangi dalam pencapaian tujuan itu, seperti halnya
dalam bidang pendidikan, pasti ada masalah-masalah dalam pembelajaran siswa.
Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan
komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga
proses interaksi menjadi vakum.
Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat
dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan
proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Selaku pengelola kegiatan
siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1) Apa saja
masalah dalam proses belajar dan pembelajaran ?
2) Apa saja
masalah yang di alamai guru dan siswa dalam proses belajar dan pembelajaran ?
3) Bagaimana
proses penilaian yang dilakukan oleh guru ?
1.3
TUJUAN PENULISAN
1)
Mengetahui
masalaj proses belajar dan pembelajaran.
2)
Mengetahui maslah yang dialamai guru dan siswa
dalam proses belajar.
3)
Mengetahui bagaimana proses penilaian yang
diberikan oleh guru.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
LANDASAN TEORI
Kesulitan belajar
memiliki arti suatu gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan
adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah normal yang telah ditetapkan.
Menurut Blassic and Jones (dalam Sugihartono,dkk, 2013) menyatakan bahwa
kesulitan belajar itu menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik
yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik
(prestasi aktual). Selanjutnya Blassic and Jones juga mengatakan bahwa peserta
didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik yang memiliki
intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang
penting dalam proses belajar baik dalam persepsi, ingatan, perhatian atau pun
dalam fungsi motoriknya.
A.
Kesulitan Belajar dalam Pembelajaran
Keberhasilan belajar peserta didik daam
proses pembelajaran ditandai dengan penguasaan bahan pelajaran dan diwujudkan
dalam bentuk nilai yang baik. Sebaliknya peserta didik dikatakan belum berhasil
apabila gagal dalam belajar dan diwujudkan dengan nilai yang rendah. Pesera
didik yang belum mampu menguasai bahan pelajaran harus mendapat perhatian
khusus oleh guru. Guru harus berusaha membantu peserta didik yang belum mampu
menguasai bahan mata pelajaran dengan cara meneliti jenis dan letak kesulitan
yang dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran.John B. Caroll (1968)
mengatakan: apabila peserta didik diberikan kesempatan menggunakan waktu yang
dibutuhkan untuk belajar, dan mereka
menggunakan dengan sebaik-baiknya, maka mereka akan mencapai tingkat belajar
seperti yang diharapkan. Carol mengatakan bahwa hasil belajar peserta didik
dipengaruhi oleh:
·
Waktu yang tersedia
untuk mempelajari bahan pelajaran yang telah ditentukan
·
Usaha yang dilakukan
pesesrta didik untuk menguasai bahan pelajaran
·
Bakat yang dimiliki
peserta didik
·
Kualitas pelajaran
atau tingkat kejelasan pelajaran
·
Kemampuan peserta
didik untuk dapat manfaat yang optimal dari keseluruhan proses pembelajaran
yang dihadapi.
Dengan demikian kedudukan diagnosis kesulitan belajar dalam proses
pembelajaran sangatlah penting demi keberhasilan proses pembelajaran.
B.
Macam-Macam Kesulitan Belajar
Macam-macam kesulitan belajar dapat
dikelompokkan menjadi :
1.
Dilihat dari jenis kesulitan belajar
a.
Ada yang berat
b.
Ada yang sedang
2.
Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
a.
Ada yang sebagian bidang studi
b.
Ada yang keseluruhan bidang studi
3.
Dilihat dari sifat kesulitannya
a.
Ada yang sifarnya permanen atau menetap
b.
Ada yang sifatnya hanya sementara
4.
Dilihat dari segi faktor penyebabnya
a.
Ada yang karena faktor intelegensi
b.
Ada yang karena faktor non intelegensi
C. Ciri-Ciri Kesulitan Belajar
Menurut Sumadi Suryobroto (1984),
kesulitan belajar dapat diketahui atas dasar :
1) Grade
Level yaitu apabila anak tidak sampai naik kelas dua kali.
2) Age Level
yaitu apabila anak yang umurnya tidak sesuai dengan kelas yang seharusnya.
Misalnya anak umur 10 tahun baru kelas 2 SD karena mengalami kesulitan belajar.
3) Intelegency
Level yaitu terjadi pada anak yang mengalami under achiever.
4) Genreral
Level yaitu apabila anak yang secara umum dapat mencapai prestasi sesuai dengan
harapan tetapi ada beberapa mata pelajaran yang tidak dapat dicapai sesuai
dengan kriteria atau sangat rendah.
Sementara menurut Moh. Surya (1978)
mengemukakan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar, yaitu :
1.
Menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah.
2.
Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan.
3.
Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
4.
Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar.
5.
Menunjukkan perilaku yang berkelainan.
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.
D. Faktor yang Menyebabkan Kesulitan
dalam Belajar
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
dapat digolongkan menjadi dua golongan, yakni faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi proses belajar adalah sikap
terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, mengolah bahan ajar, menyimpan
perolehan hasil belajar, kemampuan berprestasi, rasa percaya diri, intelegensi
dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar, serta cita-cita siswa. Sementara
faktor eksternal yang berpengaruh dalam proses belajar meliputi guru, sarana
dan prasarana, kebijakan peniaian, lingkungan sosial di sekolah, dan kurikulum
di sekolah.
Smith (dalam M. Dalyono, 2009)
menambahkan faktor metode belajar dan mengajar, masalah sosial, emosional,
intelektual, dan mental.
1.
Faktor Internal
a.
Sebab yang bersifat fisik :
(1) Karena sakit, seseorang yang sakit mengalami
kelemahan fisik (saraf sensoris dan motorisnya lemah), akibatnya rangsangan
yang diterima tidak dapat diteruskan ke otak.
(2) Karena kurang sehat, seseorang yang kurang
sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek, mengantuk,
pusing, daya kontrasi hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
(3) Karena cacat tubuh, dibedakan atas cacat
tubuh ringan (kurang pendengaran, kurang penglihatan, gangguan psikomotor) dan
cacat tubuh tetap (buta, tuli, bisu, dsb). Bagi golongan tersebut membutuhkan
perhatian yang khusus dlam pembelajaran agar dapat belajar dengan baik dan
lancar.
b.
Sebab kesulitan belajar karena rohani
(1)
Intelegensi, IQ memiliki kriteria masing-masing, anak yang memiliki IQ
terlalu tinggiataupun yang terlalu rendahharuslah memiliki perhatian khusus
dari guru. Karena itu guru haruslah memahami karakteristik dari muridnya.
(2)
Bakat, merupakan potensi dasar/ kecakapan dasar yang dimiliki sejak
lahir. Setiap anak memiliki bakatnya masing-masing, seperti menyanyi, olahraga
maupun kesenian. Seseorang akan lebih mudah belajar apabila sesuai dengan bakatnya.
(3)
Minat, tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan
timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak sesuai dengan bakat, kebutuhn,
kecakapan, tipe khusus anak akan banyak menimbulkan problema.
(4)
Motivasi, sebagai faktor batin berfungsi menimbulkan, mendasari,
mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam
mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar
kesuksesan belajarnya.
(5)
Faktor kesehatan mental, hubungan kesehatan mental dan ketenangan emosi
akan menimbulkan hasil belajar yang baik, demikian juga belajar yang selalu
sukses akan membawa harga diri seseorang.
(6)
Tipe-tipe khusus seorang pelajar
·
Tipe visual, cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis,
bagan, grafik, gambar. Sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan dalam
bentuk suara atau gerakan.
·
Tipe auditif, mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
Sulit belajar apabila dihadapkan dalam bentuk tulisan, perabaan, dan
gerakan-gerakan.
·
Tipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan dan
gerakan-gerakan. Sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.
2.
Faktor eksternal
a.
Faktor orang tua
(1) Cara mendidik anak, orang tua yang tidak
memperhatikan pendidikan anaknya akan menjadi penyebab kesulitan belajar. Orang
tua yang kejam terhadap anaknya akan menimbulkan anak tidak tentram dan tidak
senang di rumah sehingga akan pergi dari rumah untuk mencari teman sebaya dan
lupa belajar. Orang tua yang lemah dan suka memanjakan anak mengakibatkan anak
tidak mempunyai kemauan dan kemampuan, bahsan sangat tergantung pada orang tua,
hingga malas berusaha, malas menyelesaikan tugas-tugas sekolah hingga
prestasinya menurun.
(2) Hubungan orang tua dan anak, kasih sayang
dari orang tua, perhatian atau penghargaan pada anak-anak menimbulkan mental
yang sehat bagi anak. Kasih sayang dari orang tua dapat beripa: meluangkan
waktu untuk bersendagurau dengan anak-anaknya, membicarakan kebutuhan keluarga
dengan anak-anaknya. Kurangnya kasih sayang akan menimbulkan emosional yang
tidak terkontrol. Demikian juga sikap keras, kejam, acuh tak acuh akan
menybabkan hal yang serupa.
(3) Contoh atau bimbingan dari orang tua, segala
yang diperbuat orang tua tanpa disadari akan ditiru oleh anak-anaknya. Karena
sikap orang tua yang bermalas-malasan tidak baik, hendaknya dibuang jauh-jauh.
Demikian juga belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan
tanggung jawab belajar, tumbuh pada diri anak.
(4) Suasana rumah, suasana keluarga yang sangat
ramai atau gaduh tidak mungkin kan dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu
terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar. Untuk itu hendaknya
suasana di rumah selalu dibuat menyenangkan, tentram, damai, harmonis agar anak
betah di rumah.
b.
Faktor sekolah
(1)
Faktor guru, dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila:
a) Guru tidak
berkualitas, baik dalam penampilan metode yang digunakan atau dalam mata
pelajaran yang dipegangnya.
b) Hubungan guru
dengan murid kurang baik. Hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang tidak
disenangi oleh muridnya, seperti: kasar, suka marah, seka mengejek, tidak
pernah tersenyum, dll.
c) Guru-guru
menuntut standar pelajaran diatas kemampuan anak. Hal ini biasa terjadi pada
guru yang masih muda, yang belum berpengalaman hingga belum dapat mengukur
kemampuan murid-murid, sehingga hanya sebagian keci muridnya dapat berhasil
dengan baik.
d) Guru tidak
memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar. Misalnya: bakat,
minat, sifat, kebutuhan anak-anak, dsb.
e) Metode
mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, antara lain: metode
mengajar yang mendasarkan diri pada latihan mekanis tidak didasarkan pada
pengrtian.
(2)
Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap
membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama yang bersifat praktikum,
kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.
Misalnya: microskop, gelas ukur, teleskop, dll. Timbulnya alat-alat trsebut
akan menentukan:
a)
Perubahan metode mengajar.
b)
Segi dalam ilmu pengetahuan pada pikiran anak.
c)
Memenuhi tuntutan dari bermacam-macam tipe anak.
Tiadanya alat-alat itu guru cenderung
menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi anak, sehingga tidak
mustahil timbul kesulitan belajar.
(3)
Kondisi gedung,
Terutama ditunjukkan pada kondisi kelas
tempat belajar anak.Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti:
a) Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup,
udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan.
b)
Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor.
c)
Lantai tidak becek, licin atau kotor.
d) Keadaan gedung yang jauh dari keramaian
sehingga anak mudah konsentrasi dalam belajar.
Apabila beberapa hal di atas tidak
terpenuhi maka anak-anak selalu gaduh, sehingga memungkinkan pelajaran
terhambat.
(4)
Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya:
a)
Bahan-bahannya terlalu tinggi.
b)
Pembagian bahan tidak seimbang.
c)
Adanya pendataan materi.
(5) Waktu sekolah dan disiplin kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, malam,
maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan yang optial untuk menerima
pelajaran. Sebab energi sudah berkurang, disamping udara yang relatif panas di
waktu siang, dapat mempercepat proses kelelahan. Maka waktu yang baik untuk
belajar adalah pagi hari. Disamping itu, pelaksanaan disiplin yang kurang,
misalnya: murid-murid sering terlembat datang, tugas tidak dilaksanakan,
kewajiban yang dilalaikan, ekolah berjalan tanpa kendali. Lebih-lebih lagi
gurunya kurang disiplin akan banyak mengalami hambatan dalam belajar.
c.
Faktor media massa dan lingkungan
(1)
Faktor media massa meliputi: TV, surat kabar, majalah, dll. Hal itu akan
menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk
itu, hingga lupa akan tugas belajarnya.
(2)
Lingkugan sosial antara lain: teman bergaul, lingkungan tetangga, da
aktifiras dalam masyarakat.
E. Cara Mengenali Kesulitan dalam
Belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya
kesulitan belajar sebagai berikut.
1.
Menunjukkan prestasi yang rendah.
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.
Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
4.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya: dusta, berura-pura, acuh
tak acuh dll.
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berlaianan, seperti: mudah tersinggug,
kurang gembira, selalu sedih, dll.
2.2
HASIL OBSERVASI
PROFIL SEKOLAH
SD NEGERI 29 NENAK TEMBULAN
NPSN :
30108745
Status Kepemilikan :
Pemerintah Daerah
SK Pendirian Sekolah : Bupati Sintang
Alamat :
Dusun Martin Guna, desa/kel Marti Guna, kec Sintang, Kab.Sintang, Prov.
Kalimantan Barat
HASIL WAWANCARA di Kelas 2 SD tentang MATEMATIKA
Pewawancara : Saya
Narasumber : Guru dan Siswa di SD
1. Wawancara Guru
Nama Guru : Bapak. Mida S.Pd
Saya :“Masalah apa yang
sering bapak hadapi pada saat proses belajar dan mengajar disekolah khususnya
mata pelajaran Matematika di kelas rendah ?”
Guru :
“Masalahnya ya seperti terkadang anak-anak kelas rendah sedikit susah diatur, namun bisa diatasi apabila kita
bisa mengerti mereka dan cara mengajar juga harus diseuaikan. “
Saya : “Perenanaan
pembelajaraan seperti apakan yang bapak
lakukan sebelum mengajar agar proses pembelajaran berjalan dengan baik ?”
Guru : “Sebelum melakukan
proses belajar dan mengajar yang saya
lakukan yaitu menyiapkan materi serta metode yang akan saya terapkan kepada
kelas yang akan saya ajar,agar sesui dan proses belajarnya akan berjalan dengan
baik.”
Saya : “ Metode apa yang
bapak terapkan dalam proses belajar matematika pada kelas rendah, agar siswa
mudah memahami ?”
Guru : “Metode tanya
jawab dan metode diskusi. Jadi anak-anak
akan lebih aktif dengan metode tanya jawab dan mereka akan bersosialisasi
dengan teman yang lain yang lebih paham dengan metode diskusi.”
Saya : “Bagaiman proses penilaian
yang bapak lakukan untuk para siswa ?”
Guru : “Saya memberikan penilaian
sesuai dengan kesiapanya dalam belajar
penilaian dari beberapa aspek tidak hanya penilaian intelektual saja.”
2. Wawancara Siswa
Siswa 1
Nama :Nanda Putra
Darwinata
Saya : “Apakah adek menyukai
pelajaran Matematika ?”
Siswa : “ Tidak suka kak, saya tidak
suka menghitung perkalian kak”
Saya : “Apa yang menyebabkan
Matematika itu sulit untuk adek ?”
Siswa : “Gurunya tidak asik kak, jadi
saya sering tidak paham”
Saya : “Guru yang
bagaimana yang adek harapkan untuk mata pelajaran Matematika?”
Siswa : “Saya ingin guru
yang asik kak juga tidak galak agar saya semangat belajar Matematika, mungkin
dengan itu saya akan lebih paham.”
Siswa 2
Nama: Hafito Putra
Pratama
Saya : “Apakah adek menyukai
pelajaran Matematika,berikan alasannya ?”
Siswa : “Saya tidak suka
kak, Karena matematika sulit banyak perkalian dan pembagian yang sulit dipahami
oleh saya.”
Saya : “Apa yang menyebaban adek
sulit memahami pelajaran matematika?”
Siswa : “Gurunya seram kak hehehe”
Siswa 3
Nama: Elsi Relisia
Putri
Saya : “Apakan adek
menyukai pelajaran matematika dan berikan alasannya?”
Siswa :”Saya suka kak,karena Matematika
itu membuat penasaran ?”
Saya : “Adakah kesulitan adek dalam
pelajaran matematika?”
Siswa : “Kesulitanya
yaitu pada saat soal perkalian saya lama sekali menghitungnya dan membuat saya
pusing,tetapi saya tetap suka.”
2.3
LAMPIRAN
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar
mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam
memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Akan tetapi dalam mencapai suatu tujuan yang baik pasti ada kendala
suatu masalah yang menghalangi dalam pencapaian tujuan itu, seperti halnya
dalam bidang pendidikan, pasti ada masalah-masalah dalam pembelajaran siswa.
Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan
komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga
proses interaksi menjadi vakum.
Kesulitan belajar memiliki arti suatu gejala yang
tampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah
atau dibawah normal yang telah ditetapkan. Selanjutnya Blassic and Jones juga
mengatakan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta
didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa
kekurangan yang penting dalam proses belajar baik dalam persepsi, ingatan,
perhatian atau pun dalam fungsi motoriknya.
.
3.2 SARAN
masalah dalam proses belajar dan pembelajaraan pasti akan selalu ada, maslah yang mucul dari
siswa maupun dari guru sehingga belajar dan pembelajaraan yang dilakukan tidak
mencapai tujuan yang di inginkan. Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat
dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru
sangat penting. Selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan
membimbing dan membantu siswa.
guru hendaknya mampu menerapkan solusi
dalam bentuk aksi-aksi atau tindakan
yang aplikatif sehingga bukan hanya sebagai solusi saja namun juga terdapat
tindakan nyata.
DAFTAR
PUSTAKA


