Minggu, 03 Juni 2018

OBSERVASI DI KELAS 2 SD NEGERI 29 TEMBULAN Kabupaten Sintang


LAPORAN HASIL OBSERVASI
BELAJAR  DAN PEMBELAJARAN






Disusun oleh :
Nonie Hawai   (1708061430)



Dosen Pengampu : Dwi Cahyadi Wibowo, M.Pd.
Kelas : D8
Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar






SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PERSADA KHATULISTIWA SINTANG
2017/2018


KATA PENGANTAR


  Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya maka kami dapat nyelesaikan laporan observasi dan wawancara mata kuliah “BELAJAR DAN PEMBELAJARAN “ini dengan baik.laporan hasil observasi dan wawancara ini membahas mengenai “”. Laporan hasil obsevasi dan wawancara ini semata-mata hanya untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas.
          
Adapun tujuan kami menulis laporan ini yaitu agar kami dapat mengetahui untuk memperdalam pengetahuan kami dalam mata kuliah BELAJAR DAN PEMBELARAN. Dalam kesempatan ini, penulis  mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kesalahan, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga penulisan laporan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi kita semua.

                                    
                                                                                                Sintang, 30 mei 2018

                                                                                                           
                                                                                                
                                                                                                            Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
 DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1  LATAR  BELAKANG ............................................................................................ 1
2.1  RUMUSAN MASALAH......................................................................................... 2
3.1  TUJUAN PENULISAN........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
2.1  LANDASAN TEORI............................................................................................... 3
2.2  HASIL OBSERVASI............................................................................................... 7
2.3  LAMPIRAN.............................................................................................................. 10

BAB III PENUTUP............................................................................................................. 11
3.1  KESIMPULAN......................................................................................................... 11
3.2  SARAN..................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG
Belajar adalah salah satu aktivitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar. Belajar diperoleh melalui lembaga pendidikan formal dan nonformal. Salah satu lembaga pendidikan formal yang umum di Indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya.
Pada dewasa ini banyak masalah yang timbul lebih cepat. Sebelum kita dapat mengidentifikasi masalah itu, yang pasti tampak cara untuk memperoleh kejelasan dan hal ini tidak dapat dipisahkan dengan masalah-masalah itu. Semakin lama masalah itu menjadi sangat komplek. Juga dalam masalah-masalah itu selalu terjadi perubahan terutama masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman. Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi dalam mencapai suatu tujuan yang baik pasti ada kendala suatu masalah yang menghalangi dalam pencapaian tujuan itu, seperti halnya dalam bidang pendidikan, pasti ada masalah-masalah dalam pembelajaran siswa. Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum.
Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.
                                 

1.2         RUMUSAN MASALAH
1)      Apa saja masalah dalam proses belajar dan pembelajaran ?
2)      Apa saja masalah yang di alamai guru dan siswa dalam proses belajar dan pembelajaran ?
3)      Bagaimana proses penilaian yang dilakukan oleh guru ?
1.3         TUJUAN PENULISAN
1)      Mengetahui  masalaj proses belajar dan pembelajaran.
2)      Mengetahui maslah yang dialamai guru dan siswa dalam proses belajar.
3)      Mengetahui bagaimana proses penilaian yang diberikan oleh guru.


















                                                                                








BAB II
PEMBAHASAN

2.1         LANDASAN TEORI
Kesulitan belajar memiliki arti suatu gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah normal yang telah ditetapkan. Menurut Blassic and Jones (dalam Sugihartono,dkk, 2013) menyatakan bahwa kesulitan belajar itu menunjukkan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi aktual). Selanjutnya Blassic and Jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar baik dalam persepsi, ingatan, perhatian atau pun dalam fungsi motoriknya.

A.     Kesulitan Belajar dalam Pembelajaran
Keberhasilan belajar peserta didik daam proses pembelajaran ditandai dengan penguasaan bahan pelajaran dan diwujudkan dalam bentuk nilai yang baik. Sebaliknya peserta didik dikatakan belum berhasil apabila gagal dalam belajar dan diwujudkan dengan nilai yang rendah. Pesera didik yang belum mampu menguasai bahan pelajaran harus mendapat perhatian khusus oleh guru. Guru harus berusaha membantu peserta didik yang belum mampu menguasai bahan mata pelajaran dengan cara meneliti jenis dan letak kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran.John B. Caroll (1968) mengatakan: apabila peserta didik diberikan kesempatan menggunakan waktu yang dibutuhkan untuk  belajar, dan mereka menggunakan dengan sebaik-baiknya, maka mereka akan mencapai tingkat belajar seperti yang diharapkan. Carol mengatakan bahwa hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh:
·      Waktu yang tersedia untuk mempelajari bahan pelajaran yang telah ditentukan
·      Usaha yang dilakukan pesesrta didik untuk menguasai bahan pelajaran
·      Bakat yang dimiliki peserta didik
·      Kualitas pelajaran atau tingkat kejelasan pelajaran
·      Kemampuan peserta didik untuk dapat manfaat yang optimal dari keseluruhan proses pembelajaran yang dihadapi.
                 Dengan demikian kedudukan diagnosis kesulitan belajar dalam proses pembelajaran sangatlah penting demi keberhasilan proses pembelajaran.
B.     Macam-Macam Kesulitan Belajar
Macam-macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi :
1.     Dilihat dari jenis kesulitan belajar
a.   Ada yang berat
b.   Ada yang sedang
2.     Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
a.   Ada yang sebagian bidang studi
b.   Ada yang keseluruhan bidang studi
3.       Dilihat dari sifat kesulitannya
a.    Ada yang sifarnya permanen atau menetap
b.    Ada yang sifatnya hanya sementara
4.     Dilihat dari segi faktor penyebabnya
a.   Ada yang karena faktor intelegensi
b.   Ada yang karena faktor non intelegensi
C. Ciri-Ciri Kesulitan Belajar
Menurut Sumadi Suryobroto (1984), kesulitan belajar dapat diketahui atas dasar :
1)      Grade Level yaitu apabila anak tidak sampai naik kelas dua kali.
2)      Age Level yaitu apabila anak yang umurnya tidak sesuai dengan kelas yang seharusnya. Misalnya anak umur 10 tahun baru kelas 2 SD karena mengalami kesulitan belajar.
3)      Intelegency Level yaitu terjadi pada anak yang mengalami under achiever.
4)      Genreral Level yaitu apabila anak yang secara umum dapat mencapai prestasi sesuai dengan harapan tetapi ada beberapa mata pelajaran yang tidak dapat dicapai sesuai dengan kriteria atau sangat rendah.
Sementara menurut Moh. Surya (1978) mengemukakan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar, yaitu :
1.     Menunjukkan adanya hasil belajar yang rendah.
2.     Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan.
3.     Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
4.     Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar.
5.     Menunjukkan perilaku yang berkelainan.
6.     Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.


D. Faktor yang Menyebabkan Kesulitan dalam Belajar
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi proses belajar adalah sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, mengolah bahan ajar, menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan berprestasi, rasa percaya diri, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar, serta cita-cita siswa. Sementara faktor eksternal yang berpengaruh dalam proses belajar meliputi guru, sarana dan prasarana, kebijakan peniaian, lingkungan sosial di sekolah, dan kurikulum di sekolah.
Smith (dalam M. Dalyono, 2009) menambahkan faktor metode belajar dan mengajar, masalah sosial, emosional, intelektual, dan mental.
1.   Faktor Internal
a.      Sebab yang bersifat fisik :
(1)  Karena sakit, seseorang yang sakit mengalami kelemahan fisik (saraf sensoris dan motorisnya lemah), akibatnya rangsangan yang diterima tidak dapat diteruskan ke otak.
(2)  Karena kurang sehat, seseorang yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya kontrasi hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
(3)  Karena cacat tubuh, dibedakan atas cacat tubuh ringan (kurang pendengaran, kurang penglihatan, gangguan psikomotor) dan cacat tubuh tetap (buta, tuli, bisu, dsb). Bagi golongan tersebut membutuhkan perhatian yang khusus dlam pembelajaran agar dapat belajar dengan baik dan lancar.
b.     Sebab kesulitan belajar karena rohani
(1)  Intelegensi, IQ memiliki kriteria masing-masing, anak yang memiliki IQ terlalu tinggiataupun yang terlalu rendahharuslah memiliki perhatian khusus dari guru. Karena itu guru haruslah memahami karakteristik dari muridnya.
(2)  Bakat, merupakan potensi dasar/ kecakapan dasar yang dimiliki sejak lahir. Setiap anak memiliki bakatnya masing-masing, seperti menyanyi, olahraga maupun kesenian. Seseorang akan lebih mudah belajar apabila sesuai dengan bakatnya.
(3)  Minat, tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak sesuai dengan bakat, kebutuhn, kecakapan, tipe khusus anak akan banyak menimbulkan problema.
(4)  Motivasi, sebagai faktor batin berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.
(5)  Faktor kesehatan mental, hubungan kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik, demikian juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang.
(6)  Tipe-tipe khusus seorang pelajar
·       Tipe visual, cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar. Sulit belajar apabila dihadapkan bahan-bahan dalam bentuk suara atau gerakan.
·       Tipe auditif, mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara. Sulit belajar apabila dihadapkan dalam bentuk tulisan, perabaan, dan gerakan-gerakan.
·       Tipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan dan gerakan-gerakan. Sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.
2.   Faktor eksternal
a.      Faktor orang tua
(1)  Cara mendidik anak, orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya akan menjadi penyebab kesulitan belajar. Orang tua yang kejam terhadap anaknya akan menimbulkan anak tidak tentram dan tidak senang di rumah sehingga akan pergi dari rumah untuk mencari teman sebaya dan lupa belajar. Orang tua yang lemah dan suka memanjakan anak mengakibatkan anak tidak mempunyai kemauan dan kemampuan, bahsan sangat tergantung pada orang tua, hingga malas berusaha, malas menyelesaikan tugas-tugas sekolah hingga prestasinya menurun.
(2)  Hubungan orang tua dan anak, kasih sayang dari orang tua, perhatian atau penghargaan pada anak-anak menimbulkan mental yang sehat bagi anak. Kasih sayang dari orang tua dapat beripa: meluangkan waktu untuk bersendagurau dengan anak-anaknya, membicarakan kebutuhan keluarga dengan anak-anaknya. Kurangnya kasih sayang akan menimbulkan emosional yang tidak terkontrol. Demikian juga sikap keras, kejam, acuh tak acuh akan menybabkan hal yang serupa.
(3)  Contoh atau bimbingan dari orang tua, segala yang diperbuat orang tua tanpa disadari akan ditiru oleh anak-anaknya. Karena sikap orang tua yang bermalas-malasan tidak baik, hendaknya dibuang jauh-jauh. Demikian juga belajar memerlukan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab belajar, tumbuh pada diri anak.
(4)  Suasana rumah, suasana keluarga yang sangat ramai atau gaduh tidak mungkin kan dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar. Untuk itu hendaknya suasana di rumah selalu dibuat menyenangkan, tentram, damai, harmonis agar anak betah di rumah.
b.     Faktor sekolah
(1)  Faktor guru, dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila:
a)      Guru tidak berkualitas, baik dalam penampilan metode yang digunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya.
b)      Hubungan guru dengan murid kurang baik. Hal ini bermula pada sifat dan sikap guru yang tidak disenangi oleh muridnya, seperti: kasar, suka marah, seka mengejek, tidak pernah tersenyum, dll.
c)      Guru-guru menuntut standar pelajaran diatas kemampuan anak. Hal ini biasa terjadi pada guru yang masih muda, yang belum berpengalaman hingga belum dapat mengukur kemampuan murid-murid, sehingga hanya sebagian keci muridnya dapat berhasil dengan baik.
d)     Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar. Misalnya: bakat, minat, sifat, kebutuhan anak-anak, dsb.
e)      Metode mengajar guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, antara lain: metode mengajar yang mendasarkan diri pada latihan mekanis tidak didasarkan pada pengrtian.
(2)  Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar. Misalnya: microskop, gelas ukur, teleskop, dll. Timbulnya alat-alat trsebut akan menentukan:
a)     Perubahan metode mengajar.
b)     Segi dalam ilmu pengetahuan pada pikiran anak.
c)     Memenuhi tuntutan dari bermacam-macam tipe anak.
Tiadanya alat-alat itu guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi anak, sehingga tidak mustahil timbul kesulitan belajar.
(3)  Kondisi gedung,
Terutama ditunjukkan pada kondisi kelas tempat belajar anak.Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan seperti:
a)     Ruangan harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dapat masuk ruangan, sinar dapat menerangi ruangan.
b)     Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor.
c)     Lantai tidak becek, licin atau kotor.
d)     Keadaan gedung yang jauh dari keramaian sehingga anak mudah konsentrasi dalam belajar.
Apabila beberapa hal di atas tidak terpenuhi maka anak-anak selalu gaduh, sehingga memungkinkan pelajaran terhambat.
(4)  Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik, misalnya:
a)     Bahan-bahannya terlalu tinggi.
b)     Pembagian bahan tidak seimbang.
c)     Adanya pendataan materi.
(5)  Waktu sekolah dan disiplin kurang
Apabila sekolah masuk sore, siang, malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan yang optial untuk menerima pelajaran. Sebab energi sudah berkurang, disamping udara yang relatif panas di waktu siang, dapat mempercepat proses kelelahan. Maka waktu yang baik untuk belajar adalah pagi hari. Disamping itu, pelaksanaan disiplin yang kurang, misalnya: murid-murid sering terlembat datang, tugas tidak dilaksanakan, kewajiban yang dilalaikan, ekolah berjalan tanpa kendali. Lebih-lebih lagi gurunya kurang disiplin akan banyak mengalami hambatan dalam belajar.
c.      Faktor media massa dan lingkungan
(1)  Faktor media massa meliputi: TV, surat kabar, majalah, dll. Hal itu akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk itu, hingga lupa akan tugas belajarnya.
(2)  Lingkugan sosial antara lain: teman bergaul, lingkungan tetangga, da aktifiras dalam masyarakat.
E. Cara Mengenali Kesulitan dalam Belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar sebagai berikut.
1.     Menunjukkan prestasi yang rendah.
2.     Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.     Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
4.     Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya: dusta, berura-pura, acuh tak acuh dll.
5.     Menunjukkan tingkah laku yang berlaianan, seperti: mudah tersinggug, kurang gembira, selalu sedih, dll.





2.2         HASIL OBSERVASI
PROFIL SEKOLAH



SD NEGERI 29 NENAK TEMBULAN
NPSN                                                 : 30108745
Status Kepemilikan               : Pemerintah Daerah
SK Pendirian Sekolah          :  Bupati Sintang
Alamat                                    : Dusun Martin Guna, desa/kel Marti Guna, kec Sintang, Kab.Sintang, Prov. Kalimantan Barat
HASIL WAWANCARA  di Kelas 2 SD tentang MATEMATIKA
Pewawancara  : Saya
Narasumber     : Guru dan Siswa di SD
1.      Wawancara Guru

Nama Guru : Bapak. Mida S.Pd
Saya                :“Masalah apa yang sering bapak hadapi pada saat proses belajar dan mengajar disekolah khususnya mata pelajaran Matematika di kelas rendah ?”
Guru                            : “Masalahnya ya seperti terkadang anak-anak kelas rendah sedikit susah      diatur, namun bisa diatasi apabila kita bisa mengerti mereka dan cara mengajar juga harus diseuaikan.           
Saya                            : “Perenanaan pembelajaraan seperti apakan  yang bapak lakukan sebelum mengajar agar proses pembelajaran berjalan dengan baik ?”
Guru                            : “Sebelum melakukan proses  belajar dan mengajar yang saya lakukan yaitu menyiapkan materi serta metode yang akan saya terapkan kepada kelas yang akan saya ajar,agar sesui dan proses belajarnya akan berjalan dengan baik.”
Saya                            : “ Metode apa yang bapak terapkan dalam proses belajar matematika pada kelas rendah, agar siswa mudah memahami ?”
Guru                            : “Metode tanya jawab dan metode diskusi.  Jadi anak-anak akan lebih aktif dengan metode tanya jawab dan mereka akan bersosialisasi dengan teman yang lain yang lebih paham dengan metode diskusi.”
Saya                : “Bagaiman proses penilaian yang bapak lakukan untuk  para siswa ?”
Guru                : “Saya memberikan penilaian sesuai dengan kesiapanya dalam belajar  penilaian dari beberapa aspek tidak hanya penilaian intelektual saja.”

2.      Wawancara Siswa
Siswa 1
Nama :Nanda Putra Darwinata

Saya                : “Apakah adek menyukai pelajaran Matematika ?”
Siswa               : “ Tidak suka kak, saya tidak suka menghitung perkalian kak”
Saya                : “Apa yang menyebabkan Matematika itu sulit untuk adek ?”
Siswa               : “Gurunya tidak asik kak, jadi saya sering tidak paham”
Saya                 : “Guru yang bagaimana yang adek harapkan untuk mata pelajaran Matematika?”
Siswa               : “Saya ingin guru yang asik kak juga tidak galak agar saya semangat belajar Matematika, mungkin dengan itu saya akan lebih paham.”
Siswa 2
Nama: Hafito Putra Pratama

Saya                : “Apakah adek menyukai pelajaran Matematika,berikan alasannya ?”
Siswa               : “Saya tidak suka kak, Karena matematika sulit banyak perkalian dan pembagian yang sulit dipahami oleh saya.”
Saya                : “Apa yang menyebaban adek sulit memahami pelajaran matematika?”
Siswa               : “Gurunya seram kak hehehe”

Siswa 3
Nama: Elsi Relisia Putri
            


Saya                : “Apakan adek menyukai pelajaran matematika dan berikan alasannya?”
Siswa               :”Saya suka kak,karena Matematika itu membuat penasaran ?”
Saya                : “Adakah kesulitan adek dalam pelajaran matematika?”
Siswa               : “Kesulitanya yaitu pada saat soal perkalian saya lama sekali menghitungnya dan membuat saya pusing,tetapi saya tetap suka.”

2.3         LAMPIRAN





           


BAB III
PENUTUP

3.1      KESIMPULAN
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi dalam mencapai suatu tujuan yang baik pasti ada kendala suatu masalah yang menghalangi dalam pencapaian tujuan itu, seperti halnya dalam bidang pendidikan, pasti ada masalah-masalah dalam pembelajaran siswa. Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum.
Kesulitan belajar memiliki arti suatu gejala yang tampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah normal yang telah ditetapkan. Selanjutnya Blassic and Jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik yang memiliki intelegensi normal, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar baik dalam persepsi, ingatan, perhatian atau pun dalam fungsi motoriknya.
.
                                 
3.2      SARAN
masalah  dalam  proses belajar dan  pembelajaraan  pasti akan selalu ada, maslah yang mucul dari siswa maupun dari guru sehingga belajar dan pembelajaraan yang dilakukan tidak mencapai tujuan  yang di inginkan. Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam  perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.
guru hendaknya mampu menerapkan solusi dalam bentuk  aksi-aksi atau tindakan yang aplikatif sehingga bukan hanya sebagai solusi saja namun juga terdapat tindakan nyata.





DAFTAR PUSTAKA