Minggu, 11 Juni 2023

ANALISIS FILM REPUBLIK TWITTER

 

ANALISIS FILM REPUBLIK TWITTER

 

A.    PEMAIN

§   Laura Basuki kepada Dyah Hanum Farani, seorang wartawan investigasi junior

§   Abimana Aryasatya kepada Sukmo Wiyogo

§   Enzy Storia kepada Nadya Cahyadi

§   Ben Kasyafani kepada Andre Rahardian

§   Tio Pakusadewo kepada Kemal Pambudi

§   Nina Tamam kepada Tante Nina

§   Jennifer Arnelita kepada Rika

§   Leroy Osmani kepada Arif Cahyadi

§   Gary Iskak kepada Agra

§   Otig Pakis kepada Kardi

§   Edi Oglek kepada Belo Harahap

§   Mughnizein kepada Smurf

§   Mengky kepada Daebak

 

B.     SINOPSIS SINGKAT

Film adalah salah satu media komunikasi massa yang sangat ampuh dalam mempengaruhi penonton untuk mengubah pola pikir dan perilakunya agar sesuai dengan agenda media yang dibuat oleh komunikator. Salah satu aspek yang paling sering disinggung dalam sebuah film adalah masalah gender. Di Indonesia sendiri terdapat banyak film yang mengandung unsur permasalahan terhadap gender. Gender merupakan konsep jenis kelamin dilihat dari segi sosial dan budayanya. Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. “Republik Twitter” merupakan sebuah film yang memberikan nafas segar bagi industri perfilman Indonesia. Mengusung tema percintaan antara Mahasiswa tingkat akhir dan Jurnalis wanita, drama ini nyatanya mampu menyimpan permasalahan gender yang cukup sensitif.

 

C.    PERAN ASPEK PENDIDIKAN, ETIKA, POLITIK, EKONOMI, SOSIAL DAN PEMERINTAH DALAM FILM REPUBLIK TWITER.

 

1.       Aspek Pendidikan

Kalau kita lihat film republic twiter dalam bidang pendidikan itu, masyarakat atau siswa banyak menggunakan jejaring sosial untuk melalui hari-harinya dan banyak informasi baru yang mudah didapatkan. Mereka lebih senang mendapat informasi dari gegetnya atau laptopnya sendiri dibandingkan membaca Koran atau informasi dari tempat lain.karena semua orang sudah memiliki  hp atau laptopnya. Jadi lebih mudah atau simple untuk mendapatkan suatau informasi. Karena informasi dalam jejaring sosial itu selalu up to date mungkin karena itu banyak masyarakat lebih memilih mendapatkan informasi dari jejaring sosial. Tidak bersusah payah dalam menemukan suatu informasi.

 

2.       Aspek etika

Kalau kita sudah menonton film republic twiter itu,kita bisa melihat tidak seorangpun siswa yang tidak menggunakan hp atau gegetnya,siswa sekolah selalu saja sibuk sama hpnya itu, orang tua lagi bicarapun tidak diperdulikan, orang-orang lebih mementingkan dunia mayanya dibandandingkan dunia nyatanya. Sifat manusia bisa berubah-ubah diakibatkan karna hpnya dan zaman semakin canggih.

 

3.       Aspek politik

Seperti yang kita ketahui, Sekarang banyak media-media sosial yang bermuculan menulis tentang politik didalam jejarin sosial salah satunya itu adalah twiter,dan salah satu media yang dibahas dalam film republic twiter ini adalah politikus. Kita bisa membuat kata-kata apa saja di jejarin sosial tersebut. Dan kita juga bisa membuat tenar seseorang didalam dunia maya ini,karena semua informasi yang disediakan dalam dunia maya ini bisa dilihat keseluruh dunia. Dan kita tidak membutuhkan banyak waktu untuk melalukan hal yang mungkin kita lakukan agar kita tenar didalam dunia maya tersebut.

 

 

4.       Aspek ekonomi

Kalau kita tinjau dari bidang ekonomi dalam film ini, membutuhkan kerjasama untuk mendapatkan ekonomi yang banyak, orang yang mengelola warnet twiter itu bisa memamfaatkan politikus agar seorang arif cahyadi bisa tenar didunia maya dan bisa jadi geburnur DKI Jakarta, meskipun itu tidak benar menurut arif cahyadi. Jadi orang warnet bisa mendapatkan uangnya dari politikus tersebut sebaliknya politikus itu iya lebih mempertahankan nama politiknya tersebut.

 

5.       Aspek sosial

Dalam aspek sosial ini kita bisa bersosialisai melalui jejarin salah satunya twiter, banyak orang bersosialisasi lewat twiter karena tidak membutuhkan waktu dan menhabiskan tenanga untuk datang atau bertemu langsung dengan orang. Jejaring sangat simple untuk bersosialisasi. Tidak mengenal waktu dan tempat,kita bisa bersosialisasi dimana saja kapan saja melalui jejaring.

 

6.       Aspek pemerintahan

Kalau kita tinjau dari aspek sosial dalam film ini banyak sekali membahas tentang politik dan aspek sosial, mungkin tokoh dari kemal itu bisa kita buat contohnya, kalau ada orang seperti kemal itu dalam suatu bidang pemerintahan itu pasti akan merugikan atau merusak pamor pemerintahan.

D.    HAL POSITIF DAN NEGATIF

Terdapat hal positif dan negative dalam Film Republik Twitter. Hal positifnya adalah kecerdasan pemikiran yang bisa mengangkat nama melalui Twitter, selain itu kegigihan Sukmo untuk mengejar tujuannya sangat baik untuk dijadikan motivasi oleh setiap penonton.

Tetapi ada hal negatifnya yaitu kecerdasan strategi tersebut ketika pelaksanaannya merupakan hal yang licik. Dalam tweet-tweet Sukmo tidak 100% benar mengenai sifat-sifat orang yang diangkat namanya.

 

MATA KULIAH TENTANG ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

 

1.      Tuna netra merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan dalam indera penglihatan. Orang tuna netra mengandalkan indera peraba dan indera pendengaran untuk memahami kondisi dan situasi di sekitar dalam kegiatan sehari-hari.

2.      Seorang guru dapat memberikan media kepada anak tunanetra dengan memberikan media yang mendukung dalam hal pendengaran atau perabaan. Contoh medianya dalam hal pendengaran  yaitu media bola yang diberikan bunyi bunyian  dalam pelajaran olahraga anak tunanetra akan dapat bermain bola mengikuti suara bola yang di berikan bebunyiaan. Contoh media perabaan misalnya pembelajaran untuk membedakan benda padat dan cair itu dapat diberikan media yang asli misalnya bantu dan air ajak anak tunanetra untuk meraba dan membedakan.

3.      Menurut saya yang paling tepat yaitu  system Pendidikan inklusif karena system Pendidikan ini  memberikan kesempatan kepada siswa tunarungu untuk belajar dengan siswa mendengar lainnya. Sekolah menyediakan program yang sesuai dengan kebutuhan anak tunarungu dalam kata lain sekolah umum tersebut mempunyai system yang diasaptasi dengan kebutuhan anak tunarungu selain itu siswa  dapat berinteraksi dengan anak-anak lain tidak hanya dengan anak-anak tunarungu.

4.      Chronological age adalah usia kelahiran atau usia yang dihitung sejak anak lahir hingga sekarang. Mental age adalah perkembangan kecerdasan, kecerdasan yang dimaksud dalam hal ini adalah rata-rata penampilan anak pada usia tertentu.

Sumber . Modul 06 6.7

5.      Skenario Strategi  Kooperatif

Sekolah            : SDN …

Mata Pelajaran : PKN

Kelas/Semester : II/1

Alokasi waktu : 4 X 45

A.    Standar Kompetensi

Menampilkan sikap cinta lingkungan

B.     Kompetensi Dasar

Mengenal pentingnya lingkungan alam seperti dunia tumbuhan dan dunia hewan

Skenario :

·         menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa,

·         menyajikan informasi tentang lingkungan alam,

·         Guru mengajak siswa keluar kelas untuk mengamati lingkungan yang ada di sekolah

·         mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar ,

·         Guru memberikan kertas untuk ditulis apa saja tumbuhan yang dilihat tiap-tiap kelompok dilingkungan sekolah

·         Guru membimbing kelompok belajar

·         Guru mengajak setiap kelompok untuk menjelaskan apa saja yang didapat

·         Guru dan siswa melakukan evaluasi,

·          Guru memberikan penghargaan.

 

ilmu, teknologi, dan masyarakat (ITM) IPS UT

 

1.      Konsep ilmu, teknologi, dan masyarakat (ITM) perlu dimasukkan dalam pembelajaran IPS di SD karena alasan-alasan berikut:

Konsep ITM dimasukkan dalam pembelajaran IPS memberikan kontribusi secara langsung terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga Negarasebagai berikut :

·      Memahami ilmu pengetahuan di masyarakat.

·      Pengambilan keputusan warga Negara

·      Membuat koneksi antar pengetahuan

·      Mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab

Pada awalnya ide pemikiran tentang konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial dimasukkan dalam pembelajaran IPS terlebih dahulu berkembang di Negara-negara Eropa yang kemudian diadopsi oleh Amerika Serikat. Noris Harms melalui studinyaproject shyntesis mengembangkan IPS untuk persekolahan dengan tujuan sebagai berikut:

·      .IPS untuk memenuhi kebutuhan pribadi individu. Pendidikan IPS hendaknya mempersiapkan individu-individu yang menggunakan kehidupan mereka dan menjawab dunia teknologi yang semakin majub.

·      IPS untuk memecahkan berbagai persoalan kemasyarakatan masa kini. Pendidikan IPS hendaknya menghasilkan warga Negara yang serba tahu yang siap menghadapi persoalan kemasyarakatan yang berkaitan dengan masalah IPS secarabertanggungjawabc.

·      IPS dalam membantu memilih karir. Pendidikan IPS hendaknya menyadarkansemua siswa akan hakikat dan ruang lingkup keragaman karir yang berkaitandengan ilmu dan teknologi yang terbuka bagi semua siswa yang mempunyai bakatyang berbedad.

·      IPS untuk mempersiapkan studi lanjutan. Pendidikan IPS hendaknya membukakesempatan kepada siswa yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan yang secaraakademik maupun professional akan mendapatkan pengetahuan akademik yangtepat untuk memenuhi kebutuhannya.

Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakt atau disingkat dengan ITM diperlukan dalampembelajaran IPS sebab masalah-masalah kemasyarakatan pada era kini tidak dapatdipecahkan hanya dengan mengandalkan satu disiplin ilmu semata, tetapi salingketerkaitan dengan disiplin ilmu lainnya dikarenakan permasalahan masyarakat makinkomplek.

 

2.      Beberapa hal penting dari konsep ilmu, teknologi, dan masyarakat (ITM) dalam memberikan kontribusi terhadap misi pokok IPS adalah sebagai berikut:

·      Memahami ilmu pengetahuan di masyarakat.

Konsep ITM membantu siswa memahami peran ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dan di masyarakat. Hal ini melibatkan pemahaman tentang bagaimana ilmu pengetahuan ditemukan, dikembangkan, dan digunakan untuk memahami fenomena alam, manusia, dan masyarakat.

·      Pengambilan keputusan warga Negara.

Konsep ITM membantu siswa dalam pengembangan keterampilan pengambilan keputusan yang penting sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Siswa akan mempelajari bagaimana informasi, data, dan fakta yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk memahami isu-isu sosial, politik, dan ekonomi.

·      Membuat koneksi antar pengetahuan.

Konsep ITM membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan untuk membuat koneksi antara berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, geografi, ekonomi, dan lainnya. Siswa akan belajar bagaimana pengetahuan dari berbagai bidang ini saling terkait dan saling mempengaruhi.

·      Mengingatkan generasi pada sejarah bangsa-bangsa beradab

Konsep ITM juga membantu siswa untuk menghargai sejarah bangsa-bangsa yang beradab dan peran teknologi dalam perkembangan masyarakat. Siswa akan belajar tentang inovasi dan pencapaian penting dalam sejarah manusia yang melibatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini memberikan siswa pemahaman yang lebih baik tentang perjalanan manusia sepanjang waktu dan memberikan apresiasi terhadap perkembangan yang telah dicapai serta tantangan yang dihadapi.

 

3.      beberapa dampak positif dan negatif dari kemajuan di bidang teknologi

Dampak Positif

·      Kemudahan Akses Informasi: Teknologi telah memungkinkan akses mudah dan cepat terhadap informasi dari berbagai sumber di seluruh dunia. Contohnya adalah akses internet yang memungkinkan kita mencari informasi, membaca berita, atau mempelajari hal-hal baru dengan cepat.

·      Kemajuan di Bidang Kesehatan: Teknologi medis telah memberikan kemajuan signifikan dalam diagnosis, perawatan, dan penyembuhan penyakit. Misalnya, perkembangan dalam bidang pencitraan medis seperti CT scan dan MRI memungkinkan deteksi dini dan diagnosis yang lebih akurat.

·      Efisiensi dan Produktivitas: Kemajuan teknologi telah meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam berbagai sektor. Misalnya, otomatisasi proses manufaktur menggunakan robotik dan mesin dapat meningkatkan produksi dan mengurangi biaya produksi.

·      Kemudahan Komunikasi: Teknologi komunikasi seperti ponsel cerdas dan media sosial telah memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain di seluruh dunia.

Dampak Negatif

·      Ketergantungan: Kemajuan teknologi dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebihan, terutama pada perangkat elektronik seperti ponsel cerdas. Ketergantungan ini dapat mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi dan sosial.

·      Privasi dan Keamanan: Teknologi memunculkan masalah privasi dan keamanan yang kompleks. Misalnya, kebocoran data pribadi atau serangan siber yang dapat mengakibatkan pencurian identitas atau penipuan online.

·      Pengangguran: Kemajuan teknologi seperti otomatisasi dan kecerdasan buatan dapat menggantikan pekerjaan manusia dalam beberapa sektor. Ini dapat menyebabkan pengangguran struktural dan membutuhkan adaptasi keahlian baru bagi tenaga kerja.

·      Ketimpangan Digital: Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan koneksi internet. Ketimpangan digital dapat memperkuat kesenjangan sosial dan ekonomi antara mereka yang memiliki akses teknologi dan mereka yang tidak.

 

yang kita rasakan langsung dari dampak-dampak tersebut adalah kemudahan akses informasi dan komunikasi yang diberikan oleh teknologi. Kita dapat mencari informasi secara instan melalui mesin pencari, menghubungi orang-orang di seluruh dunia melalui panggilan video, atau berinteraksi dengan teman dan keluarga melalui media sosial. Namun, kita juga bisa merasakan dampak negatif seperti ketergantungan yang berlebihan pada ponsel cerdas yang dapat mengganggu interaksi sosial face-to-face atau melibatkan diri dalam praktik online yang merugikan privasi kita.

 

4.       

Tabel 1 : Perbandingan konsep ITM dan Tradisional dalam IPS
Tradisional ITM
• Konsep adalah informasi yang digunakan oleh guru untuk bahan tes • Siswa menganggap konsep sebagai sesuatu yang berguna bagi pribadi nya
• Konsep dianggap sebagai hasil • Konsep dianggap sebagai komoditas yang diperlukan untuk memecahkan masalah
• Belajar pada hakikatnya adalah sebagai ujian • Belajar karena aktivitas,proses ini penting namun bukan merupakan fokus
• Daya tahanya hanya berlaku dalam waktu singkat • Siswa yang belajar melalui pengalaman sering mengaitkan nya dengan situasi baru

Tabel 2 : Perbandingan proses ITM dan Tradisional dalam IPS
Tradisional ITM
• Siswa menganggap proses ilmiah sebagai keterampilan milik para ilmuwan • Siswa menganggap proses ilmiah sebagai keterampilan yang dapat dilakukan oleh siswa
• Siswa menggagap proses sebagai sesuatu untuk di terapkan sebagai keharusan pelajaran • Siswa memandang proses sebagai keterampilan yang diperlukan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri mereka
• Pembahasan guru tentang proses ilmu kurang dipahami oleh siswa karena tidak memperhatikan tingkat kelas • Siswa mudah memahami kaitan proses ilmu dengan perilaku sehari-hari
• Siswa memandang proses ilmu sebagai keterampilan yang abstrak,dipuja-puja dan sulit tercapai dan didekati • Siswa memandang proses ilmiah sebagai bagian penting dari apa yang biasa mereka lakukan di kelas IPS

Tabel 3 : Perbandingan sikap siswa ITM dan Tradisional dalam IPS
Tradisional ITM
• Perhatian siswa menurun pada kelas tertentu • Perhatian siswa meningkat pada setiap kelas
• IPS menunjukan tingkat rasa ingin tau yang menurun • Rasa ingin tau siswa lebih tinggi
• Siswa memandang guru sebagai penyampai informasi • Siswa memandang guru sebagai fasilisator
• Siswa memandang IPS sebagai informasi yang harus dipelajari • Siswa memandang IPS sebagai suatu cara untuk mengatasi masalah

Tabel 4 : Perbandingan antara kreativitas siswa ITM dan Tradisional dalam IPS
Tradisional ITM
• Kemampuan bertanya siswa rendah • Siswa banyak bertanya untuk mengembangkan bahan belajar dan aktivitas di kelas
• Siswa langka mengajukan pertanyaan yang unik • Siswa sering bertanya hal-ahal yang unik yang menarik perhatian baik siswa maupun guru
• Kemampuan mengenal sebab-akibat dari situsai khusus kurang efektif • Siswa mempunyai kemampuan dalam mengemukakan sebab-akibat dari hasil pengamatan maupun tindakannya
• Siswa memiliki sedikit ide yang asli • Siswa nampak bergembira dengan ide-idenya

Tabel 5 : Perbandingkan antara Aplikasi ITM dan Tradisional dalam IPS
Tradisional ITM
• Siswa tidak memanfaatkan hasil belajar ilmu bagi kehidupannya • Siswa memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari
• Siswa tidak memanfaatkan hsil belajar nya untuk memecahkan masalah • Siswa terlibat dalam memecahakan isu-isu sosial dan tahu relativitas ilmu dalam memikul tanggung jawab sebagai warga negara
• Siswa dapat memceritakan informasi yang dipelajarinya • Siswa mencari informasi dalam memecahkan masalah
• Siswa tidak mrngaitkan ilmu yang mereka pelajari dengan teknologi saat ini • Siswa tertarik dengan perkembangan teknologi mutakhir dan memanfaatkannya untuk mengetahui guna dan reveransi konsep ilmu

 

PERSPEKTIF UT

 

1.      Kemampuan membaca, melek huruf, melek wacana, dan kemampuan menulis “kemampuan yang bersifat mekanik”. Berikut adalah penjelasan mengenai perbedaan ketiga kemampuan tersebut:

a.       Kemampuan membaca, melek huruf

Anak-anak dapat mengubah dan melafalkan lambing-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi bermakna, memungkinkan anak-anak dapat melafalkan lambing-lambang huruf yang dibacanya tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambing bunyi-bunyi tersebut.

b.      Kemampuan membaca, melek wacana

Kemampuan membaca yang sesungguhnya, kemampuan mengubah lambing-lambang tulis menjadi bunyi-bunyi bermakna disertai pehaman akan lambing-lambang tersebut. Bekal kemampuan melek wacana anak di pajakan dengan berbagai informasi dan pengetahuan dari berbagai media cetak yang dapat diakses sendiri.

c.       kemampuan menulis “kemampuan yang bersifat mekanik”

menghasilkan tulisan dengan benar secara teknis, termasuk penggunaan tanda baca, ejaan yang benar, dan penulisan yang jelas dan kohesif.

 

2.      Perbedaan antara metode eja dan metode bunyi terletak pada pembaca pemulaan. Berikut adalah penjelasan mengenai perbedaan keduanya:

a.       Metode eja

Metode eja, juga dikenal sebagai metode abjad, didasarkan pada penggunaan huruf-huruf yang mewakili bunyi dalam bahasa tertentu. Dalam metode eja, setiap bunyi diucapkan secara individual dan diwakili oleh huruf atau kombinasi huruf yang menggambarkan bunyi tersebut. Contohnya, dalam bahasa Inggris, kata "cat" dieja sebagai "C-A-T", di mana setiap huruf mewakili bunyi tertentu. Metode eja lebih berfokus pada representasi grafis bunyi dan penggunaan tanda-tanda tertentu untuk mewakili bunyi-bunyi tersebut. Ini memungkinkan pembaca untuk mengenali kata-kata tertulis dan melafalkannya berdasarkan kumpulan huruf yang ada dalam kata tersebut.

b.      Metode bunyi

Metode bunyi, juga dikenal sebagai metode fonetik, berfokus pada representasi suara dan pengucapan bunyi yang tepat dalam pengejaan kata. Dalam metode bunyi, bunyi-bunyi yang ada dalam kata diekspresikan menggunakan simbol fonetik atau tanda-tanda khusus yang merepresentasikan suara yang dihasilkan oleh bibir, lidah, dan organ-organ bicara lainnya. Dalam metode bunyi, pengejaan kata mengacu pada pengucapan suara-suaranya, sehingga pembaca akan tahu bagaimana cara melafalkan kata tersebut dengan benar. Ini dapat membantu dalam situasi di mana pengejaan konvensional dalam metode eja mungkin tidak memberikan petunjuk yang jelas tentang pengucapan kata yang tepat, terutama dalam bahasa yang memiliki banyak pengecualian dalam pengejaan. Metode bunyi biasanya digunakan dalam kamus atau bahan pembelajaran bahasa untuk membantu pembaca mempelajari cara melafalkan kata-kata secara akurat dan konsisten.

 

 

3.      Penilaian proses

Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar. Proses yang dinilai meliputi tiga ranah yakni kognisi, afeksi, dan psikomotor. Penilaian kognisi menggunakan tes, penilaian afeksi dan psiomotor menggunakan penilaian nontes. penilaian berkaitan dengan proses evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa, sementara hasil merujuk pada hasil akhir yang dicapai siswa dalam membaca, menulis, dan pengetahuan.

Penilaian hasil

Hasil dalam MMP merujuk pada hasil akhir yang dicapai siswa dalam membaca, menulis, dan pengetahuan. Hasil ini mencerminkan pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa pada akhir suatu periode pembelajaran atau program. Hasil dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk, seperti tingkat pemahaman teks, kemampuan menulis dengan struktur yang baik, pengetahuan tentang topik tertentu, atau kemampuan menerapkan strategi membaca yang efektif. Hasil ini biasanya dievaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, baik itu dalam bentuk rubrik penilaian, skala penilaian, atau standar yang telah ditentukan. Hasil memberikan gambaran tentang kemampuan dan pencapaian siswa secara keseluruhan. Hal ini dapat digunakan untuk melacak perkembangan siswa dari waktu ke waktu, memberikan umpan balik tentang efektivitas program pembelajaran, dan membuat keputusan terkait langkah-langkah selanjutnya dalam mendukung kemajuan siswa.

 

4.      Pembelajaran bahasa dengan fokus menulis

Pembelajaran bahasa dengan fokus pada menulis bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyampaikan pikiran, ide, dan informasi secara tertulis. Dalam pembelajaran ini, siswa akan belajar tentang berbagai aspek menulis, seperti tata bahasa, struktur teks, kosakata, penggunaan bahasa yang tepat, dan pengembangan gaya penulisan yang jelas dan kohesif. Pembelajaran menulis sering melibatkan kegiatan seperti menulis esai, surat, laporan, atau cerita fiksi. Siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan menulis mereka dengan menghasilkan teks dalam berbagai genre dan gaya. Guru memberikan panduan, umpan balik, dan dukungan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan menulis mereka seiring waktu.

 

Pembelajaran bahasa dengan fokus membaca

Pembelajaran bahasa dengan fokus pada membaca bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan menginterpretasikan teks yang ditulis. Dalam pembelajaran ini, siswa akan mempelajari strategi membaca yang efektif, seperti memprediksi, membuat pertanyaan, mencari informasi penting, membuat rangkuman, dan menganalisis teks. Siswa akan diperkenalkan pada berbagai genre teks, termasuk artikel berita, cerita pendek, puisi, esai, atau buku teks. Mereka akan belajar bagaimana mengenali struktur teks, memahami kosakata yang tidak familiar, mengidentifikasi gagasan utama, dan melacak detail-detail penting dalam teks. Siswa juga dapat belajar tentang teknik pemahaman teks yang lebih kompleks, seperti menganalisis argumen atau menginterpretasikan makna implisit.

 

MAKALAH ILMIAH ANALISIS SARANA BELAJAR BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

MAKALAH ILMIAH

ANALISIS SARANA BELAJAR

BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

DI SDN 11 SP 2 PANDAN

Disusun Oleh :


Nim :

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA

SINTANG

TAHUN 2022

 

 

ABSTRAK

Sri Wahyuni, 2022. Analisis Sarana Belajar Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi Di SDN 11 SP 2 PANDAN. Makalah. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Terbuka.

Kata Kunci: Sarana Pendidkan, LCD Proyektor.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat. Perkembangan teknologi ini juga berdampak pada dunia pendidikan. Upaya penerapan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan ditandai dengan hadirnya media yang berbasis TIK dalam pendidikan, namun tidak semua sekolah memiliki media pembelajaran TIK khususnya LCD Proyektor. LCD Proyektor dapat digunakan guru untuk menampilkam materi pembelajaran pada layar depan kelas. SDN 11 SP 2 PANDAN terletak di Jl.Pramuka Desa Merarai dua dan kode pos 78655  Kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan observasi yang telah di lakukan penulis pada tanggal 31 Oktober 2022 di SDN 11 SP 2 PANDAN didapatkan bahwa sarana pendukung pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah tersebut belum adanya media LCD Proyektor sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal.

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan  rahmat dan hidayah-Nya. Atas berkat rahmat dan hidayat-Nya serta berbagai upaya, tugas makalah mata kuliah Hukum Dagang dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Dalam penyusunan makalah ini, ditulis berdasarkan buku yang berkaitan dengan Hukum Dagang, dan serta informasi dari media massa. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih kurang sempurna. Untuk itu diharapkan berbagai masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaannya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat membawa manfaat untuk pembaca.

 

Sintang, 10 November 2022

 

 


 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                    Halaman

HALAMAN SAMPUL..................................................................................    i

KATA PENGANTAR...................................................................................    ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................   iii

BAB I      PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang ...........................................................................    1

B.  Rumusan Masalah.......................................................................    4

C.  Tujuan ........................................................................................    4

 

BAB II    PEMBAHASAN

A.  Kajian Teoritik............................................................................    5

1.    Sarana Pendidikan..................................................................    5

2.    Sarana Pendidikan TIK..........................................................    9

3.    Sarana Pendidikan di SDN 11 SP 2 PANDAN.....................   16

 

 

BAB III  PENUTUP

A.    Kesimpulan .................................................................................    20

B.     Rekomendasi...............................................................................    21

 

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................    22

LAMPIRAN...................................................................................................    24


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan sarana yang sangat efektif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini merupakan salah satu wujud pelaksanaan tujuan negara Indonesia yang ketiga yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu maju dan tidaknya bangsa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang diterapkan oleh negara. Dalam kajian yuridis formal, makna pendidikan, seperti yang tersurat dalam UU tentang sistem pendidikan nasional BAB I ketentuan umum pasal 1 ayat 1, diungkapkan sebagai berikut.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

 

Menurut Arikunto (2008)  Sarana pendidikan merupakan semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Menurut Nana Syaodih (2009) “Fasilitas belajar merupakan semua yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien”.

Menurut Istiqlal (2018) Pembelajaran yang baik dan inovatif pada dasarnya tidak terlepas dari penggunaan media. Dalam perkembangannya pada proses pembelajaran masih banyak ditemukan kendala dalam penggunaan media antara lain secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain kesehatan, intelegensi, bakat, minat, motivasi dancara belajar. Sedangkan faktor eksternal antara lain keluarga, kualitas dosen, metode mengajar fasilitas/ perlengkapan yang tersedia, keadaan ruangan, masyarakat, lingkungan sekitar dan lain-lain.

Menurut  umar (2014) Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa. Dalam batasan yang lebih luas, Miarso memberikan batasan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Upaya penerapan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan ditandai dengan hadirnya media yang berbasis TIK dalam pendidikan. Pemanfaatan media yang berbasis TIK merupakan keharusan yang harus dilakukan untuk menunjang era persaingan kemajuan tehnologi.

Pendidikan di Indonesia yang berbasis TIK mendapat perhatian dari pemerintah, hal ini dapat dilihat dari berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait hal tersebut. Permendiknas 22 Tahun 2006 Ten- 65 tang standar isi pendidikan Dasar dan Menengah mencantumkan TIK sebagai salah satu komponen dalam kurikulum. Permendiknas 13 Tahun 2007 Tentang standar Kepala Sekolah tercantum kompetensi dalam memanfaatkan TIK. Permendiknas 17 tahun 2007 Tentang Standar Guru juga tercantum kompetensi memanfaatkan TIK.

Sarana belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dapat di gunakan yaitu Media LCD proyektor  dalam proses pembelajaran LCD Proyektor yang dimaksud dalam penulisan makalah ini yaitu LCD Proyektor yang digunakan sebagai media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran yang sedang berlangsung. LCD Proyektor dapat digunakan guru untuk menampilkam materi pembelajaran pada layar depan kelas.

SDN 11 SP 2 PANDAN terletak di Jl.Pramuka Desa Merarai dua dan kode pos 78655  Kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan observasi yang telah di lakukan penulis pada tanggal 31 Oktober 2022 di SDN 11 SP 2 PANDAN didapatkan bahwa sarana pendukung pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah tersebut belum adanya media LCD Proyektor sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal. Dari pernyataan tersebutlah penulis tertarik untuk analisis sarana belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi di SDN 11 SP 2 PANDAN.

 

 

 

 

 

 

B.       Rumusan Masalah

1.   Apa pengertian sarana pendidikan?

2.    Apa pengertian Sarana Pendidikan dengan media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi?

3.   Apa pengertian Sarana Pendidikan dengan media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi jenis LCD Proyektor?

4.   Bagiaman sarana pendidikan berbasis TIK di SDN 11 SP 2 PANDAN?

 

C.      Tujuan Penulisan

1.    Mengetahui pengertian sarana Pendidikan.

2.    Mengetahui pengertian Sarana Pendidikan dengan media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

3.    Mengetahui pengertian Sarana Pendidikan dengan media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi jenis LCD Proyektor.

4.    Mengetahui bagiaman Sarana Pendidikan berbasis TIK di SDN 11 SP 2 PANDAN.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Kajian Teori

1.    Sarana Pendidikan

Menurut Arikunto (2008)  Sarana pendidikan merupakan semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Menurut Nana Syaodih (2009) “Fasilitas belajar merupakan semua yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien”. Sarana dan prasarana belajar adalah sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha yang dapat berupa benda.Dalam hal ini sarana dan prasarana belajar bisa disamakan dengan fasilitas belajar. Besar kemungkinan sarana dan prasarana belajar merupakan faktor yang mempunyai andil besar dalam meningkatkan hasil belajar. Kegiatan belajar mengajar merupakan komunikasi dua arah antara tenaga pendidik dan peserta didik, maka diperlukan sarana dan prasarana untuk mendukungnya seperi media, ruangan kelas, dan buku sumber. Proses pendidikan itu terdiri dari beberapa unsur yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Unsur tersebut antara lain tenaga pendidik,peserta didik,materi pelajaran,sarana dan prasarana belajar, dan lainnya

Mulyasa (2009) menyatakan: Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti gedung,ruang kelas,meja kursi,serta alat-alat dan media pembelajaran, adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas belajar yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti halaman,kebun,taman sekolah, jalan menuju sekolah tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar seperti taman sekolah yang digunakan sekolah untuk pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup, halaman sekolah sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan tersebut merupakan prasarana pendidikan.

Menurut Sanjaya (2010) “ Sarana belajar adalah segala sesuatu yang mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran “. Dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana belajar sekolah sangat penting dalam proses pembelajaran untuk mendukungjalannya proses pembelajaran. Dengan berbagai macam sarana dan prasarana belajar sekolah yang tersedia dan pemanfaatan yang dapat menunjang kegiatan belajar tentunya akan membantu siswa dalam belajar baik di rumah maupun sekolah.

Menurut Karwati dkk (2014) “Untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif diperlukan pengaturan kelas yang memadai dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, waktu, pengaturan ruang belajar,dan pengelompokan peserta didik.

Dalam hubungannya dengan sarana pendidikan, Ibrahim Mufadal (2003) mengklasifikannya menjadi beberapa macam sarana pendidikan, yaitu ditinjau dari sudut:

1)   Habis Tidaknya Dipakai

Apabila dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu:

(a.   Sarana Pendidikan yang Habis dipakai Sarana pendidikan yang habis dipakai adalah bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contohnya adalah kapur tulis yang biasa digunakan oleh seorang guru dan siswa dalam pembelajaran.

(b. Sarana Pendidikan yang Tahan Lama Sarana pendidikan yang tahan lama adalah keseluruhan bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama. Sebagai contohnya adalah bangku, mesin tulis, atlas, globe, dan beberapa peralatan olah raga.

2)   Bergerak Tidaknya Pada Saat Digunakan

a)      Sarana Pendidikan yang Bergerak Sarana pendidikan yang bergerak adalah sarana pendidikan yang bisa digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Sebagai contoh lemari arsip sekolah.

b)      Sarana Pendidikan yang Tidak Bisa Bergerak Sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak adalah semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan. Misalnya saja suatu sekolah yang telah memiliki saluran dari PDAM.

 

3)   Hubungannya dengan Proses Belajar Mengajar

 Ada dua jenis sarana pendidikan.

a)    Sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, contohnya adalah kapur tulis, dan sarana pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar.

b)   Sarana pendidikan yang secara tidak langsung yang tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar, contohnya seperti lemari arsip di kantor sekolah.

Menurut Ernaninda (2019) Penyampaian materi pelajaran dapat memanfaatkan teknologi baik teknologi audio, visual dan audio visual. Dengan pemanfaatan teknologi audio, visual dan audio visual diharapkan suasana pembelajaran dan kualitas pembelajaran serta hasil pembelajaran dapat meningkat.

Berdasarkan pendapat diatas bisa disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar guru pastinya memerlukan sarana yang dapat mendukung kinerjanya sehingga pembelajaran dapat berjalan menarik. Dengan dukungan sarana pembelajaran yang memadai, guru tidak hanya menyampaikan secara lisan tetapi juga dengan cara tulis dan penggunaan alat belajar sesuai dengan sarana dan prasarana belajar yang disediakan sekolah.

 

2.    Sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengungkapkan bahwa media adalah alat atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk. Media dalam arti sempit berarti komponen bahan dan komponen alat dalam sistem pembelajaran. Dalam arti luas media berarti pemanfaatan secara maksimum semua komponen sistem dan sumber belajar diatas untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efektivitas serta kualitas dari proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk menyampaikan isi materi ajar dari sumber pembelajaran ke peserta didik (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat pembelajar sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran (di dalam/ di luar kelas) menjadi lebih efektif (Jalinus, 2016).

Menurut Warsita (2008) Media pembelajaran adalah sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau bahan pembelajaran. Media pembelajaran merupakan media yang dirancang secara khusus untuk merancang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga terjadinya proses pembelajaran. Media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seseorang pengembang mata pelajaran (program pembelajaran) dengan peserta didik. Adapun yang dimaksud interaksi adalah terjadinya suatu proses belajar pada diri peserta didik pada saat menggunakan atau memanfaatkan media. Misalnya pada saat peserta didik menyaksikan tayangan program televisi pembelajaran, film pendidikan, mendengarkan program audio interaktif, menggunakan program CAI, membaca programmed instruction, membaca modul dan sebagainya.

Dalam Permendiknas no. 19/2007 dalam bidang pengelolaan sarana dan prasarana dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:

a)       Sekolah menetapkan kebijakan program secara tertulis mengenai pengelolaan sarana dan prasarana.

b)      Program sarana dan prasarana mengacu pada Standar Sarana dan Prasarana dalam hal: 1) Merencanakan, memenuhi, dan mendayagunakan sarana dan prasarana pendidikan. 2) Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi mendukung proses pendidikan. 3) Melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkat kelas di sekolah/ madrasah. 4) Menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing-masing tingkat. 5) Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan lingkungan.

c)       Seluruh program pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

d)      Pengelolaan sarana dan prasarana sekolah/madrasah: 1) Direncanakan secara sistematis agar selaras dengan pertumbuhan kegiatan akademik dengan mengacu standar sarana dan prasarana. 2) Dituangkan dalam rencana pokok (master plan) yang meliputi gedung dan laboratorium serta pengembangannya.

e)      Pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah perlu: 1) Menyediakan petunjuk pelaksanaan operasional peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya. 2) Merencanakan fasilitas peminjaman buku dan pustaka lainnya sesuai kebutuhan peserta didik dan pendidik. 3) Membuka pelayanan minimal enam jam sehari pada hari kerja. 4) Melengkapi fasilitas peminjaman antar perpustakaan, baik eksternal maupun internal. 5) Menyediakan pelayanan peminjaman dengan perpustakaan sekolah/ madrasah lain baik negeri maupun swasta.

f)        Pengelolaan laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

g)       Pengelolaan fasilitas fisik untuk kegiatan ekstra kurikuler disesuaikan dengan perkembangan kegiatan ekstra kurikuler peserta didik dan mengacu pada standar sarana dan prasarana

Menurut Ibrahim Mufadal (2003) Ada dua jenis sarana pendidikan.

a)      Sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, contohnya adalah kapur tulis, dan sarana pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar.

b)      Sarana pendidikan yang secara tidak langsung yang tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar, contohnya seperti lemari arsip di kantor sekolah.

Menurut Pito (2018) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat. Perkembangan teknologi ini juga berdampak pada dunia pendidikan. Para pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan media teknologi yang dapat disediakan oleh sekolah yang sesuai dengan tuntutan zaman. Bahkan, pendidik juga dituntut untuk memiliki kreatifitas mengembangkan media pembelajaran yang akan digunakannya pabila media tersebut belum tersedia.

Pendidikan di Indonesia yang berbasis TIK mendapat perhatian dari pemerintah, hal ini dapat dilihat dari berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait hal tersebut. Permendiknas 22 Tahun 2006 Ten- 65 tang standar isi pendidikan Dasar dan Menengah mencantumkan TIK sebagai salah satu komponen dalam kurikulum. Permendiknas 13 Tahun 2007 Tentang standar Kepala Sekolah tercantum kompetensi dalam memanfaatkan TIK. Permendiknas 17 tahun 2007 Tentang Standar Guru juga tercantum kompetensi memanfaatkan TIK.

Upaya penerapan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan ditandai dengan hadirnya media yang berbasis TIK dalam pendidikan. Pemanfaatan media yang berbasis TIK merupakan keharusan yang harus dilakukan untuk menunjang era persaingan kemajuan tehnologi. Dalam proses pembelajaran media tersebut berupa media audio, audio visual, serta internet. Sedangkan dalam menunjang prosese pembelajaran, TIK dimanfaatkan untuk layanan administrasi. Diharapkan dengan diaplikasikannya TIK untuk pendidikan akan menjadi sebuah solusi untuk meningkatkan mutu pendidika.

Sarana belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dapat di gunakan yaitu Media LCD proyektor  dalam proses pembelajaran LCD Proyektor yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu LCD Proyektor yang digunakan sebagai media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran yang sedang berlangsung. LCD Proyektor dapat digunakan guru untuk menampilkam materi pembelajaran pada layar depan kelas.

Menurut Akbar dkk (2022) Media LCD Proyektor adalah sebuah alat proyeksi yang mampu menampilkan unsur-unsur media seperti gambar, teks, video, animasi baik secara terpisah maupun gabungan diantara unusr-unsur media tersebut dan dapat dikoneksikan dengan perangkat elektronika lainnya yang digunakan guru untuk media presentasi yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat menolong terjadinya proses belajar pada dirinya. Media LCD Proyektor dapat membantu guru untuk lebih mudah dalam mengajar dan pelajar lebih mudah dalam menerima pembelajaran. Menggunakan media LCD Proyektor juga dapat membantu guru agar dapat mengembangkan teknik pengajaran sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih maksimal. Melihat sedemikian pentingnya proses belajar mengajar dan peranan guru, maka dalam pengembangan ilmu pengatahuan perlu dikembangkan sikap dan prilaku belajar yang dapat menumbuhkan minat belajar secara wajar. Untuk itu pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran, khususnya media LCD Proyektor dapat dijadikan alternatif dalam hal tersebut.

Menurut  Ramli (2012) LCD (Liquid Crystal Display) adalah teknik untuk menyajikan data dalam bentuk huruf-huruf kristal yang tidak tembus cahaya apabila ada dalam medan listrik tertentu. LCD merupakan pelengkap OHP untuk memproyeksikan informasi langsung dari komputer. LCD mengubah tampilan komputer dari gambar elektronik menjadi layar proyeksi.Penggunaan LCD dalam pembelajaran adalah suatu teknik untuk menyajikan pelajaran dalam bentuk huruf-huruf kristal yang tidak tembus cahaya apabila ada dalam medan listrik tertentu. Cara penggunaan LCD dalam pembelajaran sebagai berikut:

a)     Materi pelajaran yang akan disajikan dirancang terlebih dahulu menggunakan komputer.

b)   Setelah data selesai dirancang dan diprogram di komputer, data tersebut diproyeksikan menggunakan LCD.

Menurut Gafur (1984) penggunaan LCD Proyektor dalam proses belajar mengajar menggunakan computer sebagai pelantara. Beberapa persiapan yang harus dipersiapkan untuk membuat konektifitas dapat bekerja dengan dilengkapi peralatan tambahan seperti : kaberl data, wireless, dan power supply. Dalam proses pembelajaran, proses menerima informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses menyimpan informasi terjadi  pada  saat  siswa harus menghafal, memahami,  dan  mencerna  pelajaran. Sedangkan  proses  mengungkap  kembali  informasi  terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat dari menggunakan LCD Proyektor dalam proses belajar mengajar adalah :

a)      Dalam hal penyampaian informasi pembelajaran. Informasi yang diterima oleh siswa paling nanyak melalui pancaindra pengdengaran dan penglihatan. Konsep multimedia  ini dapat mempermudah transformasi dan membuat pembelajaran lebih efektif.

b)      Ditinjau dari siswa, kesulitan yang biasa timbul dalam belajara adalah dalam hal penggunaan bahasa, sukar menghafal dan mengcapkan kembali, sampai timbulnya ketidak tertarikan dengan pelajaran.

c)      Memberikan pengembangan pengalaman belajar siswa. Idealnya dalam proses pembelajaran nyata dan langsung kepada siswa. Semakin nyata dan kongkrit semakin mudah pula siswa  menerima pelajaran. Tapi tak selamanya pendidik dapat memberikan pengalaman secara nyata. Seperti teori kerucut pengalaman, jika pengalaman tidak dapat diajarkan secara langsung, maka digunakan tiruan pengalamana yang dramatis, demonstrasi, pameran, televisi pendidikan, gambar hidup, gambar mati, radio, dan rekaman, lambing visual, dan lambing verbal

 

 

 

 

3.    Sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi di SDN 11 SP 2 PANDAN

Menurut Ari (1996) Pengadaan sarana dan prasarana pada dasarnya merupakan usaha merealisasikan rencana pengadaan sarana dan prasarana yang telah disusun sebelumnya. Setiap usaha untuk mengadakan sarana dan prasarana tidak dapat dilakukan sendiri oleh kepala sekolah ataupun bendahara. Usaha pengadaan harus dilakukan bersama yang akan memungkinkan pelaksanaannya lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Pengadaan merupakan segala kegiatan untuk menyediakan semua keperluan barang/ benda/ jasa bagi keperluan pelaksanaan tugas.

Hasil kajian menunjukkan bahwa kemajuan teknologi di bidang TIK, mengharuskan kita untuk menguasainya. Hal itu juga berlaku bagi dunia pendidikan di Indonesia yang mengharuskan untuk bisa menguasai dan mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar agar dapat menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas serta menguasai teknologi. Media proyektor sudah banyak digunakan, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang lainnya, hanya saja pemanfaatan proyektor pada umumnya digunakan dalam memperbesar tampilan layar sehingga informasi, baik dalam bentuk tulisan atau gambar menjadi lebih jelas. Sarana Pendidikan di SDN 11 SP 2 PANDAN dalam segi Tekonolgi Informasi dan Komunikasi sudah cukup baik sesuai hasil observasi yang dilakukan didapat :

1)   masing-masing guru diberikan laptop untuk menunjang pembelajaran di sekolah.

2)   Terdapat komputer dan alat print di ruang kantor

3)   Terdapat Wifi sebagai pusat jaringan internet disekolah

4)   Alat pengeras suara

Namun setelah di observasi  terdapat kekurangan sarana yang penting untuk mendukung pembelajaran didalam kelas yaitu media LCD Proyektor. Pengadaan media LCD Proyektor diharpkan dapat di lakukan di SDN 11 SP 2 PANDAN. Menurut Ari H (1996) Pengadaan sarana dan prasarana pada dasarnya merupakan usaha merealisasikan rencana pengadaan sarana dan prasarana yang telah disusun sebelumnya. Setiap usaha untuk mengadakan sarana dan prasarana tidak dapat dilakukan sendiri oleh kepala sekolah ataupun bendahara. Usaha pengadaan harus dilakukan bersama yang akan memungkinkan pelaksanaannya lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Pengadaan merupakan segala kegiatan untuk menyediakan semua keperluan barang/ benda/ jasa bagi keperluan pelaksanaan tugas.

Penulis sangat mengharapkan media LCD Proyektor ini diadakan dikarenakan motivasi dari beberapa penelitian terdahulu yaitu :

1)      Aquami (2015) selaku dosen tetap Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang telah melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Motivasi Belajar dan Penggunaan Sarana Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa di MA Paradigma Palembang. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua variabel (motivasi belajar dan penggunaan sarana belajar) secara signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa MA Paradigma Palembang, Hal tersebut dibuktikan dengan nilai thitung > ttabel (86,661 > 3,175 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,0005) yang artinya motivasi belajar dan penggunaan sarana belajar secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil belajar.

2)      Haryono (2015) mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dalam Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke IV September. Penelitian berjudul Pengembangan Multimedia Interaktif sebagai Media Pembelajaran IPS bagi Siswa Kelas IV SD Negeri Tegalpaanggung. Hasil penelitian menunjukkan:1) skor rata-rata ahli 12 mediaadalah 4,38 (sangat baik) , 2) skor rata-rata ahli materi 4,08 (baik), 3) skor rata-rata hasil uji coba lapanganawal 3,79 (baik), 4) skor rata-rata hasil uji coba lapangan utama 4,28 (sangat baik), 5) skor rata-rata hasil uji coba lapangan operasional 4,12 (baik). Berdasarkan hasil dari serangkaian proses uji kelayakan tersebut multimedia interaktif yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran IPS.

3)      Akbar, Harun, dan Imran (2016) Jurnal FKIP Universitas Tadulako yang berjudul Pemanfaatan Media LCD Proyektor terhadap Minat Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKN di Kelas VIII SMP Negeri 4 Palu. Penelitian ini mengunakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Palu menggunakan waktu penelitian 1 bulan. Berdasarkan hasil analisis data menghasilkan nilai 1,81. Adapun dampak pemanfaatan Media LCD Proyektor terhadap minat belajar siswa dalam pembelajaran PKN di 15 SMP Negeri 4 Palu sebanyak 32,76% sedangkan 67,233% dari oleh faktor lain.

Dari beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa media LCD Proyektor memiliki manfaat yang positif dalam pembelajaran disekolah. Karena dari hasil observasi yang penulis lakukan peserta didik merasa bosan dan tidak bersemangat dalam pembelajaran konvensional tanpa media LCD proyektor sehingga kesedian sekolah sangat diharpkan menyiapan media LCD proyektor demi kemajuan sekolah bangsa dan negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A.      KESIMPULAN

Dalam kajian yuridis formal, makna pendidikan, seperti yang tersurat dalam UU tentang sistem pendidikan nasional BAB I ketentuan umum pasal 1 ayat  diungkapkan sebagai berikut.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

 

Menurut Arikunto (2008)  Sarana pendidikan merupakan semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Menurut Sanjaya (2010) “ Sarana belajar adalah segala sesuatu yang mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran “.

Sarana belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dapat di gunakan yaitu Media LCD proyektor  dalam proses pembelajaran LCD Proyektor yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu LCD Proyektor yang digunakan sebagai media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Namun setelah di observasi  terdapat kekurangan sarana yang penting untuk mendukung pembelajaran didalam kelas yaitu media LCD Proyektor. Pengadaan media LCD Prektor diharpkan dapat di lakukan di SDN 11 SP 2 PANDAN.

B.       REKOMENDASI

Sekolah hendaknya memfasilitasi LCD proyektor di tiap-tiap ruang kelas, supaya guru dapat menggunakan LCD proyektor untuk pembelajaran. LCD proyektor diperlukan untuk meningkatkan minat belajar siswa yang menunjang kemudahan siswa dan keinginan siswa dalam belajar. Kepala sekolah dapat mengarahkan guru supaya guru memberikan materi pembelajaran yang menarik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Haris Pito, Andragogy Jurnal Diklat Teknis: Media Pembelajaran dalam Perspektif Al-qur’an, Vol. 6, No. 2, Juli-Desember 2018, h. 98

Abdul Istiqlal. 2018. Manfaat Media Pembelajaran dalam Proses Belajar dan Mengajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi, Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah Vol. 3, No.2, 2018, h. 139-140.

Akbar, M., Harun, A. H., & Imran. (2016). Pemanfaatan Media LCD Proyektor terhadap Minat Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKN di Kelas VIII SMP Negeri 4 Palu. Jurnal FKIP Universitas Tadulako. Diperoleh dari http://jurnal.untad.ac.id.

Aquami. (2015). Pengaruh Motivasi Belajar dan Penggunaan Sarana Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa di MA Paradigma Palembang. Jurnal radenfatah Istinbath, 0(16): 45-69.

Ari H. Gunawan. 1996. Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan Micro .Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 117

Bambang,Warsita. 2008. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.h. 121

Dapartemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 640.

Ernanida. 2019. Media Audio Visual dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Islam PAI, Vol. 2, No. 1, April 2019, h.102.

Gafur, Abd. 1984. Fungsi Media audiovisual dalam Kegiatan Belajar Mangajar. Tiga serangkai Solo.

Haryono, N. (2015). Pengembangan Multimedia Interaktif sebagai Media Pembelajaran IPS bagi Siswa Kelas IV SD Negeri Tegal Paanggung. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke IV September. Diperoleh dari journal.student.uny.ac.id/ojs/ojs/index.php/pgsd/article /download/1210/1082.

 Ibrahim Mufadal. 2003. Seri Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT Bumi Aksara

Jalinus, N. dan A. (2016). Media dan Sumber Pembelajaran. Kencana.

M. Ramli. 2012. Media dan Teknologi Pembelajaran, (Banjarmasin: IAIN Antasari Press. h.101

Moh. Akbar, dkk. 2022.Pemanfaatan Media LCD Proyektor terhadap minat belajar siswa dalam pembelajaran PKN di Kelas VIII SMP Negeri 4b Palu”, No. 1, februari 2022.

Mulyasa. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Pendidikan.

Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta : Prenada Media Group

Suharsimi Arikunto, dan Lia Yuliana. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Ditya Media. h. 273.

Sukmadinata,Syaodih Nana. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan,. Bandung :PT Remaja Rosdakarya

Umar. 2014. Jurnal Tarbawiyah: Media Pendidikan: Peran dan Fungsinya dalam Pembelajaran, Vol. 11, No. 1, Januari-Juli 2014, h. 132

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN