MAKALAH
ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR
MASALAH BUDAYA
(Kurangnya Sikap Memiliki
Budaya Lokal dikalangan Anak Muda
Sintang)
Dosen
Pengampu : Anyan,S.kom
Disusun oleh :
Nonie Hawai (1708061430)
Kelas : D8
Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)
PERSADA KHATULISTIWA SINTANG
2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat dan karunia-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Makalah ini membahas mengenai “MASALAH BUDAYA”. Laporan hasil makalah ini semata-mata hanya untuk
menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas.
Adapun tujuan kami menulis makalah ini yaitu agar kami
dapat mengetahui dan memperdalam pengetahuan
kami dalam mata kuliah
ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR . Dalam kesempatan ini, penulis
mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah ini,serta pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki
banyak kesalahan, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
diharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga penulisan makalah ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi kita semua.
Sintang, 23 Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1
2.1 RUMUSAN MASALAH......................................................................................... 1
3.1 TUJUAN
PENULISAN........................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN..................................................................................................... 2
2.1
KEBUDAYAAN YANG KURANG DIMINATI.................................................. 2
2.2
CARA MENGATASI PERMASALAHAN............................................................ 5
BAB
III PENUTUP............................................................................................................. 6
3.1 KESIMPULAN......................................................................................................... 6
3.2 SARAN..................................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... .7
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Generasi Muda dituntut untuk dapat bertanggung
jawab akan masa depan dirinya dan masa depan bangsanya, karena letak kemajuan
atau kemerosotan bangsa ini kedepan merupakan tanggung jawab mereka. Dan dari
tanggung jawab inilah diharapkan tumbuh dan berkembang generasi baru yang
peduli dan tanggap pada salah satu permasalahan bangsa yaitu budaya. Menyadari
betapa pentingnya generasi yang akan datang dalam memegang tonggak kemajuan
daerah khususnya dan kemajuan bangsa pada umumnya serta mencetak generasi muda
yang terhindar lepas dari hal-hal yang bersifat negative nantinya..
Permasalahan terhadap masyarakat saat ini yang
belum mengetahui, memahami, menguasai, dan mengkomunikasikan budaya lokal perlu
suatu cara untuk dapat mengarahkan itu semua. Disinilah peran generasi muda di
lingkungan tempat mereka tinggal untuk bersama-sama mengarahkan itu semua
melalui pelestarian kebudayaan, salah satunya dengan ikut serta langsung dalam
acara festival budaya di daerah masing-masing agar dapat mengenal dan mencintai
kebudayaan yang ada di Indonesia sejak dini. Hal inilah yang membuktikan bahwa
di pundak pemudalah masa depan pembangunan bangsa dan negara Indonesia, karena
pada diri generasi muda tersimpan potensi yang besar dan memiliki daya
kreatifitas yang tidak terbatas untuk kesuksesan suatu pembangunan. Begitu juga
dalam pelestarian budaya di suatu Negara. Kontribusi dan apresiasi yang besar
dari generasi muda sangat diperlukan karena generasi muda sebagai tenaga-tenaga
professional yang energik, kreatif, dan inovatif.
1.2
RUMUSAN MASALAH
- Apa saja budaya
disintang yang kurang diminati anak muda?
- Apa permasalahan yang dihadapi dalam kebudayaan
disintang?
1.3
TUJUAN PENULISAN
1.
Mengetahui
budaya-budaya yang ada disintang.
2.
Mengetahui
permasalahan yang dihadapi tentang kebudayaan yang kurang diminati.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
KEBUDAYAAN-KEBUDAYAAN DI SINTANG YANG KURANG
DIMINATI GENERASI MUDA
A.
MENENUN TENUN IKAT
Salah satu
yang cukup terkenal dari Sintang ini adalah kain tenun ikatnya. Tenun ikat
Sintang merupakan warisan budaya suku Dayak yang mempunyai nilai seni tinggi.
Kain tenun ikat Sintang tidak diproduksi dengan mudah. Proses pembuatannya
cukup panjang, mulai dari menanam kapas, memintal benang (ngaos), peminyakan
benang, pewarnaan dengan mencelup, mengikat motif, hingga menenun. Semua
dilakukan dengan cara manual. Proses menenunnya menggunakan alat tenun yang
terbuat dari kayu dan bambu yang biasa disebut ‘gedokan’. Untuk menghasilkan
selembar kain ukuran kebat atau tating (seukuran taplak meja), umumnya
membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan membuat kain yang ukuran kumbu
(seukuran selimut), bisa memakan waktu hingga enam bulan. Motif-motif kain
tenun ikat Sintang lebih bernuansa tradisional yang terinspirasi dari hal-hal
yang ada di sekitar lingkungan masyarakat Sintang, baik dari tumbuhan, hewan,
sungai, hutan dan lain-lain. Motif motif diwariskan turun temurun dari
pengerajin tua ke pengerajin muda. Motif-motif baru tidak terlalu sering hadir
dan jika ada, gaya motifnya tidak berbeda dengan apa yang sudah ada sebelumnya,
tradisional.
Ø Permasalahan
Anak muda disintang banyak yang
tidak tertarik untuk meneruskan kegiatan menenun ini yang mana sudah diketahui bahwa kegiatan tersebut membutuhkan waktu yang lama dan anak
pada zaman sekarang lebih memilih waktunya untuk kegiatan seperti bermain
handphone.kegiatan menenun tersebut sekarang kebanyakan hanya orang-orangtua
saja yang melakukannya.sehingga yang dikhawatirkan kebudayaan ii akan hilang
ditelan zaman karena tidak bergenerasi.
B. Tradisi
Umpan Benua
Umpan benua
adalah semacam pemberitahuan dari manusia yang hidup di alam dunia nyata kepada
makhluk gaib. Ritual budaya digelar sebagai cara menghormati makhluk gaib
ciptaan Tuhan baik di sungai dan daratan.Umpan benua dilakukan di tujuh titik
yakni Sepauk atau Lengkong Bandar, Balai Buaya di Masuka, Jabar Sembrani di
Baning, Lebak Kawi di Tanjung Hilir, Teluk Menyurai dan puncaknya di Saka Tiga
yakni pertemuan Sungai Kapuas dan Melawi.
Pertemuan
antara Sungai Kapuas dan Sungai Melawi oleh masyarakat setempat disebut Saka
Tiga yang dalam bahasa Melayu Sintang dapat diartikan bercabang tiga. Saka Tiga
dianggap tempat yang mengandung mistis. Menurut kepercayaan masyarakat
setempat, Saka Tiga merupakan tempat atau kerajaan mahluk-mahluk mistis
penunggu sungai yang konon berwujud naga atau disebut Puaka.Menurut kepercayaan
sejak awal Kerajaan Sintang, ritual adat Umpan Benua bertujuan memberi makan
atau sedekah terhadap mahluk yang diyakini menguasai sungai. Sesajennya berupa
ayam panggang, rokok, beras, sirih, kue adat, dan beras kuning.Sesajen terdiri
dari rancak tolak bala dan rancak selamat. Rancak tolak bala ditenggelamkan di
Saka Tiga. Sedangkan rancak selamat dihanyutkan. Ada pembacaan doa tolak bala
dan shalawat.
“Ritual
Umpan Benua dilestarikan untuk menjaga tradisi. Tidak ada maksud lain dan
dilaksanakan setiap acara Kesultanan Sintang. Satu diantaranya setiap
Peringatan Hari Jadi Kota Sintang,” singkat Juru Kunci Keraton Sintang, H
Thamrin Hasan yang memimpin ritual Umpan Benua.
Ø Permasalahan
Permasalahan yang muncul disini
yaitu sebagian anak muda sintang tidak tahu menau tentang tradisi ini.sehingga
ditakutkan tradisi ini tidak ada yang meneruskan dan anak muda kurang
antusias.bagimana masyarakat akan tahu jika anak muda lokalnya saja tidak tahu.
C. Alat Musik
Kledik
Kledik
merupakan alat musik tradisional Pulau Kalimantan. Kledik mempunyai banyak nama
diantaranya Kledi, Keledi atau Kaldei.
“Kledik ini murni berasal dari
Kabupaten Sintang. Asalnya dari Desa Nanga Tebidah, Kecamatan Kayan Hulu,”
ungkapnya.
Kledik telah
mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) pada
20 Oktober 2015 lalu. Siti menjelaskan bentuk alat musik terbilang unik yakni
berupa susunan sejumlah tabung bambu berbagai ukuran yang dihubungkan dengan
sebuah labu.Labu tua berumur sekitar 5-6 bulan yang telah dikeluarkan isinya,
direndam satu bulan dan selanjutnya dikeringkan. Buah labu dan batang-batang
bambu disatukan menggunakan perekat dari sarang kelulut (lebah hutan kecil).
“Fungsi dari Tabung Panjang yakni
menghasilkan satu nada. Sedang tabung lain berukuran pendek menghasilkan
berbagai ragam nada suling,” jelasnya.
nada yang dihasilkan Kledi merupakan
nada pentatonik. Lazimnya, Kledi dimainkan saat ritual adat suku Dayak, iringan
nyanyian, tarian tradisional dan teater tutur. Di tengah perkembangan zaman,
eksistensi Kledik memang jarang terdengar. Kledik masih kalah populer dengan
alat-alat musik tiup modern seperti harmonika dan sebagainya.
Ø Permasalahan
Generasi
muda diakui lebih suka belajar dan memainkan alat musik modern dibandingkan
alat musik tradisional. Kedepan perlu langkah strategis mengenalkan alat musik
tradisional kepada anak-anak muda, khususnya Kledik. Tujuannya agar Kledik
tidak lekang digerus zaman.
2.2
CARA MENGATASI PERMASALAHAN
1) Jati diri harus berbasis
kepada budaya dan kepribadian bangsa.
2)
Memiliki Komitmen Tinggi Untuk Pelestarian Unsur
dan Nilai Sosial dan
budaya.
3)
Menanamkan
kecintaan terhadap budaya sendiri sejak dini
4)
Waktu
banyak dihabiskan disekolah sebaiknya para pengajar menanamkan rasa cinta
kebudayaan
5)
Media
seperti televise harus menayangkan
acara-acara kesenian dengan mengemasnya secara berbeda, tidak membosankan
6)
pemerintah
harus memperhatikan para seniman Indonesia sehingga seniman terus melestarikan
kesenian kebudayaan daerah dan bisa mewariskan kepada penerus bangsa sehingga
kebudayaan Indonesia tetap bertahan dan semakin berkembang.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Permasalahan terhadap masyarakat saat ini yang belum mengetahui,
memahami, menguasai, dan mengkomunikasikan budaya lokal perlu suatu cara untuk
dapat mengarahkan itu semua. Disinilah peran generasi muda di lingkungan tempat
mereka tinggal untuk bersama-sama mengarahkan itu semua melalui pelestarian
kebudayaan, salah satunya dengan ikut serta langsung dalam acara festival
budaya di daerah masing-masing agar dapat mengenal dan mencintai kebudayaan
yang ada di Indonesia sejak dini. Hal inilah yang membuktikan bahwa di pundak
pemudalah masa depan pembangunan bangsa dan negara Indonesia, karena pada diri
generasi muda tersimpan potensi yang besar dan memiliki daya kreatifitas yang
tidak terbatas untuk kesuksesan suatu pembangunan. Begitu juga dalam
pelestarian budaya di suatu Negara. Kontribusi dan apresiasi yang besar dari
generasi muda sangat diperlukan karena generasi muda sebagai tenaga-tenaga
professional yang energik, kreatif, dan inovatif.
3.2 SARAN
Sebaiknya
kebudayaan lokal perlu dikembangkan dan didukung oleh semua kalangan agar terus
lestari dan banyak dikenal baik nasional maupun internasional.dan sebagai
generasi bangsa sebaiknya kita juga harus melestarikannya agar kedepannya
kebudayaan lokal disintang ini akan bisa dilihat oleh generasi selanjutnya dan
tidak hilang begitu saja.
DAFTAR PUSTAKA
https://fadila24.wordpress.com/2013/11/08/cara-agar-budaya-indonesia-diminati-oleh-masyarakatnya/




Tidak ada komentar:
Posting Komentar