Minggu, 11 Juni 2023

1.       Deskriminasi harga drajat

·      Deskriminasi harga drajat 1

Deskriminasi harga derajat 1, juga dikenal sebagai deskriminasi harga sempurna, terjadi ketika perusahaan menetapkan harga yang berbeda untuk setiap unit produk yang dijual kepada setiap pelanggan individu. Tujuan utama dari deskriminasi harga derajat 1 adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari setiap pelanggan dengan membebankan harga yang tepat sesuai dengan tingkat permintaan dan kemampuan bayar masing-masing pelanggan. Berikut adalah contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga derajat 1

A.      Maksimalkan keuntungan: Dengan menerapkan harga yang berbeda untuk setiap pelanggan, perusahaan dapat menyesuaikan harga sesuai dengan tingkat permintaan dan ketersediaan produk. Ini memungkinkan perusahaan untuk mencapai tingkat keuntungan maksimum dengan memaksimalkan pendapatan dari setiap pelanggan. Contohnya, dalam bisnis penerbangan, maskapai penerbangan mungkin menggunakan sistem tarif dinamis yang memungkinkan mereka menetapkan harga yang berbeda untuk setiap kursi pada pesawat, tergantung pada waktu pemesanan, tingkat permintaan, dan faktor-faktor lainnya.

B.      Penyesuaian harga sesuai dengan permintaan: Dalam beberapa kasus, pelanggan memiliki tingkat permintaan yang berbeda terhadap produk atau layanan tertentu. Dengan menerapkan harga yang berbeda, perusahaan dapat mengenakan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan yang lebih mampu atau lebih bersedia membayar. Contohnya, produsen mobil mewah mungkin menawarkan mobil dengan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan yang mencari fitur-fitur dan prestise yang lebih tinggi, sementara mobil dengan harga yang lebih rendah ditujukan untuk pelanggan dengan preferensi dan anggaran yang berbeda.

·      Deskriminasi harga drajat 2

Deskriminasi harga derajat 2 adalah praktik di mana suatu perusahaan menetapkan harga yang berbeda untuk kelompok pelanggan yang berbeda berdasarkan atribut tertentu yang dianggap relevan. Tujuan utama dari deskriminasi harga derajat 2 adalah untuk mengoptimalkan pendapatan perusahaan dengan memaksimalkan keuntungan dari setiap kelompok pelanggan. Berikut adalah contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga derajat 2:

a.       Meningkatkan margin keuntungan: Perusahaan menerapkan harga yang lebih tinggi untuk kelompok pelanggan yang relatif lebih tidak sensitif terhadap harga. Dengan cara ini, perusahaan dapat meningkatkan margin keuntungan pada kelompok tersebut tanpa mengorbankan volume penjualan. Misalnya, sebuah hotel mungkin menetapkan harga yang lebih tinggi untuk kamar dengan pemandangan laut karena pelanggan yang mencari pengalaman mewah mungkin bersedia membayar lebih.

b.       Mengoptimalkan kapasitas produksi: Dalam beberapa industri, perusahaan memiliki kapasitas produksi yang terbatas. Dengan menerapkan harga yang berbeda untuk kelompok pelanggan yang berbeda, perusahaan dapat mengalokasikan kapasitas produksi secara efisien. Misalnya, maskapai penerbangan mungkin menawarkan harga yang lebih rendah untuk penerbangan dengan jam keberangkatan yang kurang populer untuk mengisi kursi yang kosong.

·      Deskriminasi harga drajat 3

Deskriminasi harga drajat  3 adalah praktik di mana suatu perusahaan menetapkan harga yang berbeda untuk konsumen yang berbeda, tergantung pada kategori atau karakteristik tertentu. Tujuan utama dari deskriminasi harga drajat 3 adalah untuk meningkatkan pendapatan perusahaan dengan mengoptimalkan keuntungan dari setiap segmen pasar yang berbeda. Berikut adalah contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga drajat 3:

a.       Diferensiasi pasar: Perusahaan dapat membedakan antara segmen pasar yang berbeda berdasarkan preferensi atau kebutuhan pelanggan. Misalnya, sebuah bioskop menerapkan harga yang lebih rendah untuk siswa atau lansia dibandingkan dengan harga yang dikenakan pada pelanggan dewasa.

b.       Peningkatan volume penjualan: Dalam beberapa kasus, perusahaan menerapkan harga yang lebih rendah untuk konsumen yang bersedia membeli dalam jumlah besar. Misalnya, toko grosir mungkin menawarkan harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli dalam jumlah besar daripada pelanggan yang hanya membeli produk dalam jumlah kecil.

 

 

2.       Non-Tariff Barriers (NTBs) atau hambatan non-tarif adalah bentuk penghalang perdagangan internasional selain tarif. Berikut adalah pemahaman saya mengenai beberapa bentuk NTBs yang termasuk dalam kategori ini:

a.       Export Subsidy: Ini adalah bantuan atau subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada produsen atau eksportir dalam bentuk uang tunai, pengurangan pajak, atau fasilitas lainnya. Subsidi ekspor bertujuan untuk mendorong ekspor dan membuat produk domestik lebih kompetitif di pasar internasional. Contohnya adalah pemerintah negara A memberikan subsidi kepada produsen mobil untuk meningkatkan ekspor mobil ke negara B.

b.       Export Credit Subsidy: Ini adalah bentuk dukungan keuangan yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan atau eksportir untuk mendorong ekspor. Subsidi kredit ekspor melibatkan penawaran pinjaman dengan suku bunga yang lebih rendah atau jaminan yang lebih menguntungkan bagi eksportir. Hal ini membantu eksportir menghadapi risiko dan biaya yang terkait dengan perdagangan internasional. Contohnya adalah pemerintah negara C menyediakan pinjaman ekspor dengan suku bunga yang rendah kepada perusahaan tekstil untuk memfasilitasi ekspor produk tekstil ke negara-negara lain. c.

c.        Import Quota: Ini adalah batasan kuantitatif yang diberlakukan oleh pemerintah terhadap jumlah barang impor yang dapat masuk ke suatu negara. Import quota bertujuan untuk melindungi produsen domestik dengan mengurangi persaingan dari produk impor. Pemerintah menetapkan batasan jumlah impor yang diizinkan dalam periode waktu tertentu. Contohnya adalah negara D mengimpor hanya 100.000 ton gandum per tahun, dan setelah mencapai batas tersebut, tidak ada impor gandum tambahan yang diizinkan.

d.       Voluntary Export Restraints (VERs): Ini adalah kesepakatan sukarela antara dua negara di mana negara pengekspor setuju untuk membatasi ekspornya ke negara lain. VERs umumnya digunakan untuk mencegah penerapan tindakan proteksionis oleh negara impor. Misalnya, negara A dan negara B dapat mencapai kesepakatan bahwa negara A akan membatasi ekspor sejumlah produk tertentu ke negara B dalam periode waktu tertentu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar