1.
Deskriminasi harga drajat
·
Deskriminasi harga drajat 1
Deskriminasi harga derajat 1, juga dikenal sebagai deskriminasi harga
sempurna, terjadi ketika perusahaan menetapkan harga yang berbeda untuk setiap
unit produk yang dijual kepada setiap pelanggan individu. Tujuan utama dari
deskriminasi harga derajat 1 adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari
setiap pelanggan dengan membebankan harga yang tepat sesuai dengan tingkat
permintaan dan kemampuan bayar masing-masing pelanggan. Berikut adalah
contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga derajat 1
A.
Maksimalkan keuntungan: Dengan menerapkan harga
yang berbeda untuk setiap pelanggan, perusahaan dapat menyesuaikan harga sesuai
dengan tingkat permintaan dan ketersediaan produk. Ini memungkinkan perusahaan
untuk mencapai tingkat keuntungan maksimum dengan memaksimalkan pendapatan dari
setiap pelanggan. Contohnya, dalam bisnis penerbangan, maskapai penerbangan
mungkin menggunakan sistem tarif dinamis yang memungkinkan mereka menetapkan
harga yang berbeda untuk setiap kursi pada pesawat, tergantung pada waktu
pemesanan, tingkat permintaan, dan faktor-faktor lainnya.
B.
Penyesuaian harga sesuai dengan permintaan:
Dalam beberapa kasus, pelanggan memiliki tingkat permintaan yang berbeda
terhadap produk atau layanan tertentu. Dengan menerapkan harga yang berbeda,
perusahaan dapat mengenakan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan yang lebih
mampu atau lebih bersedia membayar. Contohnya, produsen mobil mewah mungkin
menawarkan mobil dengan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan yang mencari
fitur-fitur dan prestise yang lebih tinggi, sementara mobil dengan harga yang
lebih rendah ditujukan untuk pelanggan dengan preferensi dan anggaran yang
berbeda.
·
Deskriminasi harga drajat 2
Deskriminasi harga derajat 2 adalah praktik di mana suatu perusahaan
menetapkan harga yang berbeda untuk kelompok pelanggan yang berbeda berdasarkan
atribut tertentu yang dianggap relevan. Tujuan utama dari deskriminasi harga
derajat 2 adalah untuk mengoptimalkan pendapatan perusahaan dengan
memaksimalkan keuntungan dari setiap kelompok pelanggan. Berikut adalah
contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga derajat 2:
a.
Meningkatkan margin keuntungan: Perusahaan
menerapkan harga yang lebih tinggi untuk kelompok pelanggan yang relatif lebih
tidak sensitif terhadap harga. Dengan cara ini, perusahaan dapat meningkatkan
margin keuntungan pada kelompok tersebut tanpa mengorbankan volume penjualan.
Misalnya, sebuah hotel mungkin menetapkan harga yang lebih tinggi untuk kamar
dengan pemandangan laut karena pelanggan yang mencari pengalaman mewah mungkin
bersedia membayar lebih.
b.
Mengoptimalkan kapasitas produksi: Dalam
beberapa industri, perusahaan memiliki kapasitas produksi yang terbatas. Dengan
menerapkan harga yang berbeda untuk kelompok pelanggan yang berbeda, perusahaan
dapat mengalokasikan kapasitas produksi secara efisien. Misalnya, maskapai
penerbangan mungkin menawarkan harga yang lebih rendah untuk penerbangan dengan
jam keberangkatan yang kurang populer untuk mengisi kursi yang kosong.
·
Deskriminasi harga drajat 3
Deskriminasi harga drajat 3 adalah
praktik di mana suatu perusahaan menetapkan harga yang berbeda untuk konsumen
yang berbeda, tergantung pada kategori atau karakteristik tertentu. Tujuan
utama dari deskriminasi harga drajat 3 adalah untuk meningkatkan pendapatan
perusahaan dengan mengoptimalkan keuntungan dari setiap segmen pasar yang
berbeda. Berikut adalah contoh-contoh tujuan dari deskriminasi harga drajat 3:
a.
Diferensiasi pasar: Perusahaan dapat membedakan
antara segmen pasar yang berbeda berdasarkan preferensi atau kebutuhan
pelanggan. Misalnya, sebuah bioskop menerapkan harga yang lebih rendah untuk
siswa atau lansia dibandingkan dengan harga yang dikenakan pada pelanggan
dewasa.
b.
Peningkatan volume penjualan: Dalam beberapa
kasus, perusahaan menerapkan harga yang lebih rendah untuk konsumen yang
bersedia membeli dalam jumlah besar. Misalnya, toko grosir mungkin menawarkan
harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli dalam jumlah besar
daripada pelanggan yang hanya membeli produk dalam jumlah kecil.
2.
Non-Tariff Barriers (NTBs) atau hambatan
non-tarif adalah bentuk penghalang perdagangan internasional selain tarif.
Berikut adalah pemahaman saya mengenai beberapa bentuk NTBs yang termasuk dalam
kategori ini:
a.
Export Subsidy: Ini adalah bantuan atau subsidi
yang diberikan oleh pemerintah kepada produsen atau eksportir dalam bentuk uang
tunai, pengurangan pajak, atau fasilitas lainnya. Subsidi ekspor bertujuan
untuk mendorong ekspor dan membuat produk domestik lebih kompetitif di pasar
internasional. Contohnya adalah pemerintah negara A memberikan subsidi kepada
produsen mobil untuk meningkatkan ekspor mobil ke negara B.
b.
Export Credit Subsidy: Ini adalah bentuk
dukungan keuangan yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan atau
eksportir untuk mendorong ekspor. Subsidi kredit ekspor melibatkan penawaran
pinjaman dengan suku bunga yang lebih rendah atau jaminan yang lebih
menguntungkan bagi eksportir. Hal ini membantu eksportir menghadapi risiko dan
biaya yang terkait dengan perdagangan internasional. Contohnya adalah
pemerintah negara C menyediakan pinjaman ekspor dengan suku bunga yang rendah
kepada perusahaan tekstil untuk memfasilitasi ekspor produk tekstil ke
negara-negara lain. c.
c.
Import
Quota: Ini adalah batasan kuantitatif yang diberlakukan oleh pemerintah
terhadap jumlah barang impor yang dapat masuk ke suatu negara. Import quota
bertujuan untuk melindungi produsen domestik dengan mengurangi persaingan dari
produk impor. Pemerintah menetapkan batasan jumlah impor yang diizinkan dalam
periode waktu tertentu. Contohnya adalah negara D mengimpor hanya 100.000 ton
gandum per tahun, dan setelah mencapai batas tersebut, tidak ada impor gandum
tambahan yang diizinkan.
d.
Voluntary Export Restraints (VERs): Ini adalah kesepakatan
sukarela antara dua negara di mana negara pengekspor setuju untuk membatasi
ekspornya ke negara lain. VERs umumnya digunakan untuk mencegah penerapan
tindakan proteksionis oleh negara impor. Misalnya, negara A dan negara B dapat
mencapai kesepakatan bahwa negara A akan membatasi ekspor sejumlah produk
tertentu ke negara B dalam periode waktu tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar